Ternyata, budaya korupsi seperti sudah mendarah daging di kalangan pejabat pribumi kita, ya?
Buku ini menjelaskan secara gamblang tentang gejolak politik, praktik kekuasaan, serta aktivitas sosial-ekonomi di Pulau Jawa dan Madura sejak abad ke-15 hingga abad ke-20.
Menariknya, sebagian sumber yang digunakan berasal dari dokumen rahasia intelijen Angkatan Laut dan Departemen Luar Negeri Inggris yang kemudian dibuka ke publik dan menjadi referensi baru dalam dunia sejarah.
Siapa sangka, Belanda sudah memulai perdagangan dengan Nusantara sejak 1508, sebelum akhirnya mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie pada 1602.
Di era VOC, perdagangan di Jawa dijalankan dengan sistem monopoli. Pedagang lokal tidak diberi kebebasan, kapal-kapal pribumi ditangkap, dan rakyat tidak pernah benar-benar dilindungi dari para bupati yang kerap menindas mereka.
Memang, warga pribumi tetap menerima upah atas kerja mereka. Namun jumlahnya sangat kecil. Ironisnya, praktik korupsi juga dilakukan oleh para bupati pribumi sendiri, membuat penderitaan rakyat semakin dalam.
Kehadiran VOC turut mempercepat eksploitasi hutan di Jawa. Namun perusahaan dagang ini akhirnya bangkrut karena praktik korupsi.
Setelah itu, pemerintah kolonial Belanda mengambil alih pengelolaan hutan dengan membentuk lembaga kehutanan. Sayangnya, berdirinya departemen tersebut tidak serta merta menghentikan eksploitasi.
Meski aturan tentang penebangan, cagar alam, dan budidaya pohon telah dibuat, praktik monopoli tetap berjalan. Pemerintah memberi keleluasaan kepada pihak swasta untuk mengelola hutan, terutama pohon jati yang bernilai tinggi.
Membaca buku ini terasa sangat relate dengan kondisi sekarang. Eksploitasi hutan masih terjadi secara masif, bahkan di depan mata kita. Pertanyaannya, jika terus begini, sumber daya apa yang akan kita wariskan ke generasi mendatang?
Buku ini membedah sejarah Jawa dan Madura abad ke-15 hingga ke-20 secara ringkas dan lengkap.
Ia mengajak kita melihat bahwa praktik kolonialisme seolah belum benar-benar hilang. Kolonial asing memang telah pergi, tetapi yang tersisa adalah kolonialisme dalam wajah yang lain yakni kolonialisme oleh pribumi sendiri.
Selamat membaca.

0 Komentar