Perempuan di Titik Nol adalah buku kontroversial yang
benar-benar menyoal hidup perempuan secara telanjang. Novel
karya Nawal El Saadawi, seorang perempuan Mesir, ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi
bacaan penting dalam wacana feminisme dunia.
Buku ini mengisahkan seorang tahanan bernama Firdaus. Ia
dipenjara bukan karena korupsi atau kejahatan seperti para pejabat otoritas
negara yang sewenang-wenang. Firdaus dipenjara karena sebuah perlawanan. Ia
hanya menjalani hidupnya, mencari makna hidupnya sendiri, dan justru karena
itulah ia berakhir di balik jeruji.
Sejak kecil, Firdaus tidak pernah tahu bagaimana rasanya
hidup yang layak. Yang ia tahu, sebagai perempuan ia harus nurut pada ayahnya.
Ia melihat ibunya dipukul, dan ia sendiri menjadi suruhan. Tubuh dan hidupnya
bukan miliknya. Bahkan sejak kecil, ia sudah akrab dengan seks, walaupun ia
tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu hanyalah rasa
nikmat yang menjalar di tubuhnya.
Waktu kecil, ia senang bermain, hingga suatu hari bertemu
anak laki-laki yang mengajaknya bermain pengantin-pengantinan. Ia merasakan
sensasi nikmat yang menjalar dari tengah belahan pahanya. Ia tidak tahu itu
apa, tidak paham maknanya, hanya merasakan tubuhnya bereaksi. Ketika bersama
pamannya pun demikian. Jari-jemari tangan pamannya membuat kenikmatan itu
muncul sedikit demi sedikit. Ia kecil, ia tidak tahu, tapi tubuhnya tahu.
Saat beranjak dewasa, pamannya menyekolahkannya di Mesir.
Lika-liku hidup Firdaus semakin terasa. Setelah lulus, ia dijodohkan dengan
seorang syaikh tua yang kaya raya. Menjadi istrinya bukan perkara mudah. Ia
harus mau menjalani hubungan yang sama sekali tidak ia sukai. Ia menghadapi
pukulan dan tamparan hampir setiap hari. Pernikahan itu hanya mengganti satu
bentuk penindasan dengan bentuk yang lain.
Hidupnya tidak pernah jauh dari seks. Ketika ia mencoba
melarikan diri ke kota dan jalan raya, ia bertemu seseorang yang tampak seperti
penolong. Ia menyelamatkannya dari laki-laki lain yang baginya seperti anjing
berbentuk manusia. Namun penolong itu justru menjadikannya pelacur. Firdaus
sadar ia dimanfaatkan. Maka ia lari dan memilih menjadi pelacur mandiri yang sukses dengan
standar harga yang tinggi. Setidaknya, kali ini ia yang menentukan harga
tubuhnya sendiri.
Sampai akhirnya ia bertemu seorang germo yang juga ingin
menguasainya. Pertikaian tak terelakkan. Amarah yang selama ini ia pendam
tentang bejatnya lelaki meledak. Germo itu tewas di tangannya. Firdaus tidak
panik. Ia tidak merasa bersalah. Justru ada rasa ringan, seolah semua beban
hidup yang menindihnya sejak kecil runtuh sekaligus.
Buku ini membuka mata tentang bagaimana perempuan sering
kali tidak pernah benar-benar lebih unggul dari laki-laki dalam sistem yang
timpang. Perempuan seperti barang jualan yang siap dibeli, dipakai, dijual lagi, dan hanya dijadikan objek. Firdaus membuktikan bahwa sekeras apa pun perempuan berusaha,
ia tetap bisa diposisikan sebagai budak lelaki. Ketika ia melawan, justru ia
yang ditangkap.
Kalimatnya tajam yakni lebih baik menjadi pelacur
yang sukses daripada menjadi perempuan suci yang sesat. Pelacur, baginya, punya
kebebasan dan standar harga. Sementara perempuan yang menyerahkan tubuhnya atas
nama cinta sering kali hanya terjebak dalam kepatuhan dan penindasan.
Lewat Firdaus, kita bisa melihat bagaimana perempuan mencoba menggugat sistem yang timpang itu. Tentang tubuh, kuasa, seks, dan bagaimana
perempuan dipaksa hidup dalam aturan yang tidak pernah mereka buat sendiri.
Judul Buku : Perempuan Di Titik Nol
Penulis : Nawal El Saadawi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit : Edisi 7 2003
Tebal Buku : 155 hlm.
Reviewer : Mohammad Akib
0 Komentar