RESENSI
ABURING KUPU KUPU KUNING
Romo
Sindhunata
Aburing kupu kupu kuning merupakan
buku berbahasa jawa yang sangat kental dengan nuansa spiritual Katolik. Buku
ini berisi kisah lika liku dan seluk beluk wong cilik yang penuh dengan
pengajaran Rohani. Dari cerita cerita yang ada, kita akan mengetahui bahwa kehadiran
Gusti sebenarnya tidak jauh dari keseharian hidup kita. Meski kita
berada di tengah kehidupan dunia yang carut marut, manusia akan tetap bisa
bertemu dengan Tuhan dengan merasakan kehadiran-Nya.
Buku ini ditulis dengan indahnya
sastra jawa. Sastra jawa tentu tidak bisa dibaca secara cepat dan terburu terburu.
Seperti yang kita tahu bahwa sastra lahir untuk dinikmati. Disini, Romo
Sindhu seperti memberikan nyawa pada setiap kata, kalimat, hingga paragraf yang
beliau tulis. Pembaca dengan sejenak diajak untuk melunakan hati, menghidupkan
rasa, dan melahirkan kesadaran untuk memahami sesama lewat setidaknya 38 macam carios
pagesangan.
“Manungso Kuwi yektine wae
cilik, sekeng, tanpo duwe daya, melarat tanpa ndarbeni apa apa, dene sing dadi
ndarbeke ora liyo mung dosa.” Kira kira apa sih yang harus kita sombongkan
di dunia? Ketika kita besar, kaya, kuat, kiranya akan tetaplah sia sia jika
dalam diri kita tidak memiliki katresnan jati. Sebaliknya, yang kecil
malah bisa menjadi indah karena punya talenta katresnan.
Sebagai seorang manusia, tentu kita
wajib untuk mencintai sesama. Terkhususnya Nresnani wong miskin lan kang
nandhang sengsoro. Dengan kita mencintainya, kita sama saja mencintai
Tuhan. Jika tidak mencintai wong cilik dan kita tidak belajar mencintai
kepada mereka, kiranya kita belum pantas untuk ikut berkumpul Ing Ngarso
Ndalem Gusti.
Hidup memanglah penuh dengan lika
liku. Orang orang yang merasakan Seret lan paiting urep adalah orang
yang lebih beruntung daripada orang yang bergelimang harta, pangkat, jabatan
atau kuasa. Bergelimang kemewahan hanya akan membuat manusia ciblon
kanikmatan. Lupa bahwa ada yang harus digapai dan diperjuangan daripada
hanya sekedar kenikmatan di dunia.
Rasa sih ndalem Gusti (rasa cinta)
ini bukan hanya dongeng belaka. Ia adalah kenyataan bagi orang orang yang
mengimani. Gusti Yesus selalu memberikan piweling agar selalu berhati
hati dan jangan sampai hatimu menjadi tumpul karena panasnya perasaan yang
muncul akibat perbedaan hidup dan berbagai kesibukannya. Hal ini seperti yang
tertuang dalam Lukas bab 21 ayat 34-35.
Rasa cinta itu bukan hanya karena
berharap apa yang dicintai bisa memberikan hasil yang kita inginkan, tapi rasa
cinta itu karena memang kita harus benar benar cinta kepada yang kita cintai.
Ketika kita sudah melebur dengan Katresnan Ndalem Gusti, sesulit apapun
kehidupan akan mudah terlewati. Segala halang rintang, kebingungan, kesusahan,
ketakukan, bukan lagi menjadi halangan.
Tuhan harus selalu kita masukan
dalam hati dan diri. Dengan begitu, datangnya kematianpun kita tidak akan
takut. Dengan itulah kita hidup dan akan selalu hidup meski kita sudah mati.
Kematian memanglah akan datang, tapi datangnya kematian bukan untuk menghukum
dan mematikan tapi untuk menyempurnakan keselamatan dan kedamaian.
Adanya kedamaian dan keadilan tidak
bisa kita lakukan tanpa bergantung pada Katresnan Ndalem. Kita akan
lumpuh, takut ketika kita menghadapi barang yang tidak adil tanpa bergantung
pada pertolongan Gusti. Rasa Ikhlas, pasrah dan sederhana ini yang mampu
melahirkan kedamaian dalam diri.
Mengambil Pelajaran dari patung Pieta.
Sebuah patung yang menggambarkan ketika Maria menggendong Yesus dipangkuannya
setelah penyalibanNya. Jika dilihat, patungnya memang sederhana tapi mampu
menarik orang banyak. Apa yang membuat patung tersebut menjadi menarik orang
banyak? Paradoks, ya itulah yang merupakan 2 hal yang selalu bertentangan.
Manusia memang tidak suka hidup dalam kondisi saling bertentangan. Antara baik
dan buruk pasti manusia memilih baik. Antara muda dan tua pasti memilih yang
muda. Antara hidup dan mati pasti memilih hidup.
Namun, paradoks itu memang
sejatinya manusia. Semakin manusia menjauhi paradoks itu, maka akan semakin
tersiksa. Meskipun kaya, akan terasa miskin. Sudah Merdeka tetap terasa
terikat. Sudah beruntung tetap saja merasa sengsara. Sudah hidup, eh malah
merasa mati. Seperti Pieta, ia menerima paradoks itu dan malah menjadikan
sebagai jatidirinya. Justru kemauan untuk menerima itulah yang menyebabkan
paradoks jadi penawarnya. Pieta yang sederhana ternyata mampu mewujudkan cerita
yang mengharukan
Aburing kupu kupu kuning merupakan
sebuah perjuangan penuh keikhlasan dalam menjalani jalan kehidupan. Seperti
layaknya kisah kupu kupu kuning yang rela terbang bersama sama ke arah timur.
Untuk apa? Tidak lain hanya untuk terus terbang
dan menjemput kematian. Ketika kupu kupu itu mati maka akan lahir
kesejukan dan kesuburan. Artinya, terbangnya kupu kupu ke arah timur sebagai
tanda kalau akan ada hujan ditengah kekeringan yang sedang melanda.
Anak anak yang melihat perjuangan
dan pengorbanan kupu kupu kuning itu lantas ingin menjadi kupu kupu kuning yang
terbang ke timur. Sebuah pengorbanan cinta sang kupu kupu kuning agar dari
langit segera turun hujan dan menyelamatkan tanah yang retak kering kerontang.
Keinginan ini merupakan keinginan tentang keikhlasan. Tentang bagaimana ketika
manusia ingin lenyap dan tidak ingin ada lagi. Bukan artian secara fisik, tapi
ini adalah sebuah keinginan yang tulus menuju sikap rendah hati, meleburkan
ego, meninggalkan diri pribadi demi sesuatu yang lebih tinggi dan mulia. Dan
yang terpenting adalah agar Tuhan mampu duduk dalam relung terdalam hati
manusia.
Buku ini membawa dampak baik bagi
setiap pembaca. Setidaknya bagi seorang yang sedang dilanda rasa kerasnya hati,
maka buku ini dapat menjadi obatnya. Hanya saja, tentu tidak semua pembaca
paham akan bahasa yang digunakan. Bagi saya sendiri banyak bahasa bahasa yang
asing bagi saya. Tapi daripada Bahasa Indonesia yang digunakan pada umumnya
buku atau novel, Bahasa Jawa adalah pilihan yang sangat cocok untuk
menggambarkan segala suasana dan kondisi kehidupan dengan lebih dalam dan
bermakna. Dengan membaca buku ini, saya kira tidak ada kondisi kehidupan yang
benar benar indah tanpa adanya upaya cinta serta kepasrahan menggantungkan diri
kepada Tuhan.
“Yen kita cedak marang Gusti,
Nyuwun apa wae bakal kasembadan”
|
Judul
Buku : Aburing Kupu Kupu Kuning |

0 Komentar