Saya
tentu bangga berada di kota kelahiran saya yakni Kediri. Kota dengan tingkat Bahagia
yang cukup tinggi. Kotanya asri, orangnya ramah dan hidup rukun. Tentang kerukunan
Kediri tidak lagi diragukan. Masjid bersandingan dengan Gereja sudah menjadi hal
lumrah. Umat beragama tidak lagi ribut persoalan ini dan itu. Semuanya guyup
rukun.
Seperti
yang saya lakukan bersama kawan kawan dari Mahanani pada tanggal 2 Agustus 2025.
Kami melaksanakan srawung ke Kesusteran Putri Kasih Kota Kediri. Saya sendiri
menjadi pembincang buku disitu. Berkah ndalem.
Perbincangan
buku itu membincangkan buku karya seorang Imam Katolik yang sangat dikenal di Indonesia
yakni adalah Romo Sindhunata. Bukunya berjudul Aburing Kupu Kupu Kuning. Memang
pertama kali saya melihat buku aburing kupu kupu kuning hati saya sudah tertarik.
Entah tertarik dengan apa yang jelas saya tertarik dan meminjamnya dari sang pemilik
yakni Pak Narno. Dosen saya di kampus.
Ketika
saya baca, walah, bahasa jawa sekali. Tapi ternyata itu yang malah menjadi
keunggulannya. Saya baca kata perkata, kalimat perkalimat, dan luar biasa terasa
sekali ini buku ini. Hampir saya bawa terus buku itu. Dan buku yang mengingatkan
saya akan kehidupan dan kesadaran akan Tuhan.
Aburing
Kupu Kupu Kuning memang membawa energi yang dahsyat pada malam itu. Berkat Aburing
Kupu Kupu Kuning kita bisa berkumpul bersendagurau bersama di Kesusteran Putri Kasih
Kota Kediri. Makan soto bersama, berdoa bersama, bernyanyi bersama, dan bercengkrama
bersama.
Yang
membuat saya terenyuh adalah ketika saya mendengar banyak sekali berita intoleransi,
berita berita perundungan keagamaan, penolakan tempat ibadah, bahkan hingga pembatasan
kegiatan do’a. Bukan hanya itu, ada juga berita yang menerangkan bahwa ada
kelompok di dalam agama yang saling serang mempertahankan keyakinannya. Itu di
dalam agamannya sendiri loh ya, hanya beda kelompok bisa saling serang. Sekali lagi
itu satu agama yang sama.
Disini
kami berbeda agama bisa saling guyon, bisa makan bareng, bisa ini dan itu dan
semuanya dilakukan atas kesadaran kamanungsan atau kemanusiaan. Bahwa perbedaan
bukanlah menjadi sebab kita saling bermusuhan. Acara ini tidak membutuhkan formalitas
kesana kemari dan segala macam seperti mungkin umumnya acara. Acara ini
berjalan apa adanya. Kita saling membawa barang masing masing, mempersiapkannya
secara bersama sama dan kita nikmati secara bersama sama juga. Setelah selesai
kita bersih bersih bersama sama juga. Ini adalah kesadaran kemanusiaan.
Saya
ingin menuliskan bahwa kemanusiaan itu masih ada. Sinar sinar perdamaian itu
masih lekat dan kental. Disaaat di daerah lain ribut soal perbedaan bahkan
hingga saling serang. Kami disini selalu gembira dan guyup rukun dengan
perbedaan yang ada.

0 Komentar