NASKAH “Kaweruh Nyawa"

NASKAH

“Kaweruh Nyawa”

 

Hidup tanpa buku ibarat ruang gelap tak berlampu.

 

Selayaknya nyawa yang bermukim dalam setiap diri manusia, seperti itulah buku pada sejatinya. Buku dapat membuat kita mengenal lebih luas mengenai perspektif atau sudut pandang yang ada di berbagai kelompok masyarakat maupun negara. Buku juga menjadi alat mempertajam daya pikir kritis karena dengan membaca, kita sejatinya mencoba berdialog dengan buku tersebut. Jika kita membaca? Kebermanfaatan akan kembali ke kita. jika kita meninggalkannya? Kerugian juga akan kembali ke kita.

 

Terdapat 2 aktor dalam naskah ini. Keseluruhan berpakaian putih. Dengan karakter yang berbeda pula.

Di panggung terdapat meja dan kursi.

Aktor 1 masuk dengan membawa setumpuk buku. Berlajan pelan. Buku di letakan di bawah. Ia Naik ke meja. Eksplor. Mengambil beberapa buku untuk di pajang rusuh di meja dan kursi. Ia membaca secara terlentang dibawah meja. Juga membaca dengan wajah terbalik. Kadang tertawa, lalu berganti buku, menangis, berganti buku lagi, kadang marah. Eksplor. Mengambil buku berjalan membawa di sudut panggung. (eksplor dengan mencoba mengajak buku berinterkasi)

Aktor 2 masuk. Dengan membawa setumpuk buku.  Menata rapi di atas meja. Menata semua tidakrapian yang ada. ia berucap

“Orang bodoh seperti apa yang memporak porandakan seperti ini. buku ditaruh di bawah, di buang tidak karuhan. Lihat (sambil melihatkan buku ke penonton) dia ini hidup. Setiap hari aku berdialog dengannya. Aku berbicara secara mendalam tentang dunia ini dengannya. Aku bisa mengenal dunia, juga darinya.”

Aktor 1 menyahuti “BOHONG!”

Kata siapa dia hidup? Haha....HAHAHA. benda mati tidak ada hidup. Lihat lihat (sambil mencoba menerbangkan buku) apa dia bisa terbang? Tidak bisa kan.

Halo buku? (mengajaknya bicara) mana? mana jawabanya? Tidak ada kan, haha hahaha. Dasar!

Berjalan kembali ke sudut.

Aktor 2, “dia tidak memahami apa yang saya katakan. Jika ia tahu bahwa buku ini hidup, pasti akan merawatnya dengan sepenuh hati. Ia tak akan hidup tanpa adanya buku ini. kalian semua pasti punya ruangan di rumah. Ya, seperti itulah sejatinya diri kita. dan apabila kita tanpa buku? diri kita ibarat ruang gelap tak berlampu.”

Aktor 1, “apa lampu?, haha hahaha, ini banyak lampu (sambil menunjuk ke lampu yang ada).  Aku bisa membeli banyak lampu untuk menerangi ruangan di rumahku. Bahkan jika perlu, aku menjual barang barang tak berguna ini dan ku tukarkan dengan lampu yang banyak.

Aktor 2, “persoalanya bukan tentang lampu. Bukan tentang ruangan. Ini tentang dirimu. Apa kau membaca apa yang kau pegang itu?”

Aktor 1, “membaca? Iya pasti, siapa bilang tidak membaca? (memperagakan membaca dengan cepat)     

“membaca tanpa memahami itu sia sia. Ya, setidaknya ia sudah membaca. Setidaknya ia tidak merendahkan seseorang yang tidak membaca.”    

Aktor 1 berjalan dengan mengekplorasi meja, kursi dan melihat buku yang masih berserakan. Aktor perempuan mencoba menjatuhkan buku (ketika buku di jatuhkan secara spontan aktor laki jatuh juga) buku diangkat dan dijatuhkan lagi (aktor laki mengikuti gerak dari buku itu)

Aktor 2, “buku ini hidup, ia adalah nyawa bagi kita semua.” (sambil terus mencoba mengangkat dan menjatuhkan buku) (aktor laki laki terus merekonstruksu gerak buku).

Aktor 1 mencoba menghentikan proses penjatuhan buku itu karena menyakitkan bagi dirinya. Tapi terus tidak bisa karena ia harus jatuh bangun mengikuti gerak buku. 

Aktor 1, “Tolong hentikan, hentikan, hentikan....!”

Buku dipegang diatas oleh aktor 2.

Aktor 2, “proses pembelajaran ini tidak bisa dihentikan sekarang, akan ada rasa sakit sedikit yang harus dirasakan. Agar kau percaya bahwa ia nyawamu.” (mempraktikan menyobek buku bagian tengah) lantas dibarengi teriakan dari aktor laki sambil berdarah darah di bagian dadanya. Eksplorasi darah itu ke wajah. Sambil kesakitan.  

Aktor perempuan, “ia adalah jantung kita, ia adalah nyawa kita (sambil mengangkat buku)

Ia mengambil solasi dan menyolasi sobekan kertas tadi. Dan aktor laki kembali bangkit setelah kertas seelsai di isolasi.

Aktor laki, “Ampun, ampun, ampun” sambil merangkak.

Aktor perempuan, “ambil dan rawat buku yang berserakan semua ini. ia akan membawamu menuju hal yang belum pernah kau ketahui. Ia akan melepaskanmu dari belenggu yang ada. Ia akan membebaskan pikiranmu. Jangan kau sekali kali merendahkan siapapun yang tidak membaca. Ia bukannya tidak mau membaca, hanya saja belum merasakan betapa sakitnya terpenjara dalam kebodohan.


Nb. cocok untuk pentas sederhana dengan durasi yang tidak terlalu panjang.


 

 

Posting Komentar

0 Komentar