Sumber Pinterest
BERSATU DALAM PERBEDAAN
Sinopsis:
Terdapat 2 kubu yang saling ejek, saling merasa benar, saling
menyalahkan satu dengan yang lainya. 2 kubu tersebut yang awalnya hanya saling
adu ejek dengan lisan akhirnya mereka saling mendekat dan saling adu fisik.
Pertengkaran tersebut di latar belakangi karena perbedaan yang melekat pada
diri mereka. Mulai dari perbedaan organisasi, kelompok, paham, ras, agama, dll.
Bagi mereka, kelompok mereka sendirilah yang paling benar daripada orang lain
hingga lupa jika kebenaran yang mereka yakini juga dimiliki oleh orang lain.
Orang lain juga memiliki hak yang sama.
Ditengah pertengkaran mereka, terdengar suara teriakan keras yang
tidak diketahui dari mana asalnya. Suara itu semakin mendekat begitu juga yang
fisiknya. Terlihatlah bahwa dia seseorang yang ingin memisahakan pertengkaran
tersebut. Berkat seseorang tersebutlah pertengkaran dapat diselesaikan dengan
menyadarkan anggota dari 2 kubu yang bertengar tadi.
Adegan 1
*Lampu mati *suara kentungan/ jimbe/ yang serupa (untuk backsound
suasana riuh ribut)
Ditengah kegelapan suasana, 2 kubu yang berisi masing masing
sekitar 2/lebih orang tersebut saling ejek. “kamu yang salah” , “jangan sok
berkuasa” , “aku yang benar”, dan perkataan serupa yang lain.
*lampu perlahan menyala*
(Posisi kedua kubu berpencar diluar panggung utama)
Selama kedua kubu saling ejek, mereka perlahan menuju ke panggung
utama. Ketika di panggung utama mereka tetap saling ejek dan berlanjut ke
tindakan atau kontak fisik. Keributan mereka semakin ditambah dengan adegan
salah satu aktor menyiram air ke aktor lainya.
Adegan 2
Keributan tadi langsung disahut oleh suara teriakan “Diammm”
“Diammm.” Posisi aktor di belakang atau disamping penonton.
“ Diammm. Diam kalian semua. Jika kalian terus bertengkar seperti
ini, tidak akan pernah selesai permasalahan bangsa ini. Lihat. Lihat. Ini jiwa
kalian. Jiwa kalian telah mati seperti ini (sambil menggendong dan menunjuk
bendera merah putih). Sampai kapan kalian akan seperti ini. Sampai kapan kalian
memperkosa bangsa ini dengan keributan dan perpecahan. ”
Setelah berbicara aktor tersebut mulai lemas dan pingsan.
(Adegan kedua ini diisi 2 aktor. Satu pemegang bendera, kedua
pendamping.)
Adegan 3
Para aktor aktor 2 kubu tadi lalu mendekati aktor yang pingsan.
Mereka menutupnya dengan kain jarik. Aktor pendamping berada di depannya dengan
membawa lilin. Mereka semua berjalan dari titik tempat pingsannya aktor pembawa
bendera ke panggung utama dengan prosesi semistis mungkin. Aktor pendamping
melantunkan tembang jawa selama prosesi berjalan ke panggung utama.
Adegan 4
Di panggung utama, aktor pembawa bendera di letakan dengan lilin
berada di samping atas kepalanya.
Aktor pendamping berdialog dengan aktor aktor kubu
“ apa yang membuat kalian seperti ini?”
“apakah perbedaan paham?” sambil mengeluarkan kertas yang
bertuliskan paham
“apakah perbedaan kelompok?” sama
“apakah perbedaan organisasi?”
“apakah perbedaan golongan?”
(Sebanyak”nya perbedaan)
Kertas kertas yang bertuliskan perbedaan tersebut di buang pada
suatu tempat untuk dibakar. Selama kertas kertas berisi perbedaan tersebut
terbakar, aktor 2 kubu saling merasa merintih dan kesakitan hingga api dalam
wadah tersebut mati.
Setelah api mati, wadah tersebut di isi air agar segala perbedaan
tersebut menyatu menjadi satu. Aktor 2 kubu saling berebut untuk mencari
perbedaan masing masing yang sebelumnya melekat pada diri mereka. Namun sayang,
perbedaan perbedaan itu sudah melebur jadi satu dalam wadah tersebut. Mereka akhirnya
mengoleskan leburan sisa pembakaran tersebut ke badan mereka (dengan gerakan
intensitas/mengeksplorasi tubuh mereka sendiri.)
(diringi bekson yang bagus dan sesuai)
Adegan 5
Selama mereka mengoleskan leburan kertas ke tubuh mereka, aktor
yang pingsan terbangun.
Ia berkata :
Kalian lihat, dengan perbedaanlah kalian mampu berdamai. Dengan
perbedaanlah kalian mampu menjadi diri kalian sendiri. Dengan perbedaanlah
kalian mampu untuk tidak bertengkar. Perbedaan itu adalah anugrah yang
diberikah Hyang Kuasa kepada kalian agar kalian saling mengenal dan saling
mengerti.
Hanya orang bodoh yang bertengkar hanya karena perbedaan. Perbedaan
bukanlah untuk saling bertengkar dan membenci tapi perbedaan ada agar kita bisa
untuk saling memahami.
Lihat, (sambil mengangkat bendera) apakah kalian rela mematikan
jiwa kalian lagi? Apakah kalian rela melihat ibu ibu kalian menangis? Apakah
kalian rela...........?
Sabut dari aktor kubu :
Cukup........, cukup sudah. Kami akan bersatu. Kami akan saling
memahami. Kami bukan orang bodoh. Kami
sekarang menjadi manusia. Manusia yang berakal budi.
Adegan 6
Mengajak para petinggi yang hadir, pejabat, sesepuh, ketupel, presma, atau yang sejenis untuk masuk ke panggung
utama dan bersama sama memegang bendera dengan aktor.
“Kami bersama sama akan setia menjaga kerukunan dan kedamaian
dibawah pelukan ibu pertiwi.”

0 Komentar