
Sumber Pinterest
Alam Jangan Kita Sakiti
*Untuk durasi waktu pementasan max 15 menit
Sinopsis :
Pagi itu, kedua petani pergi kesawah seperti biasa. Namun, hari itu
mereka tidak datang dengan membawa bibit atau akan merawat tanaman. Mereka
datang ke sawah untuk sekedar menanam beberapa pohon disawah. Di sela sela
mereka menanam pohon, istri mereka menyusul ke sawah dengan membawa sarapan dan
akhirnya mereka istirahat dengan makan bersama.
Saat mereka istirahat percakapan dimulai. Apalagi saat itu berita
tentang penjualan tanah, penebangan pohon liar, dll sangat marak. Tanah tanah
yang mereka tanami merupakan tanah leluhur dan pohon pohon yang masih tegap
berdiri di hutan juga merupakan hutan adat.
Hutan mereka sangat di lindungi karena berkat hutanlah mereka
hidup. Hutan tempat rumah rumah leluhur. Jadi jangan sampai hutan, lahan sawah,
dan tempat mereka di gadaikan ke siapapun itu. Namun, istirahat yang mereka
lakukan tidak berlangsung lama. Terdengar suara suara jejak kaki yang kian lama
kian risuh. Ternyata terjadi penebangan pohon pohon dan pengambilan tanah adat
secara paksa oleh pabrik yang ingin berdiri dan memperluas lahan disitu.
Kedua petani mencoba melawan sebisa mungkin. Istri mereka menjaga
bibit yang barusan mereka tanam. Namun, kedua petani tersebut kembali
mendatangi istri mereka dengan ringkih dan berlumur darah. Mereka berpesan,
jangan pernah gadaikan tanah adat, hutan hutan adat kepada siapapun. Ini
merupakan warisan kepada anak cucu.
Adegan 1
*Musikalisasi puisi yang sesuai dengan narasi naskah ini
*setelah musikalisasi puisi selesai, diputar backsound tetanen
waljinah untuk mengiringi petani keluar dan berkegiatan di sawah.
Petani keluar satu persatu dengan adegan di sawah seperti
mencangkul, ngarit, dll. setelah itu, mereka satu persatu mengambil bibit pohon
untuk di tanam. Di sela sela itu, istri mereka datang dengan membawa sarapan.
Mereka saling bantu membantu menanam hingga langu habis.
Adegan 2
Istirahat sambil makan makan
Petani 2: kang, ngerti berita ora?
Petani 1: berita opo?
Istri satu : iyo berita opo?
Petani 2 : halah mosok nggak ngerti. Tanah tanah iki kan arepe di
beli to kang. Dan hutan hutan adat itu nanti sebagian akan dibersihkan. Nggak
tahu mau dibuat apa
Istri 2 : lololo yo nggak bisa
Istri 1 : lawong tanah tanah ini, hutan hutan ini tinggalan dari
leluhur kita. Yo nggak berani menjual
Petani 1 : wes kang , sing tenang....... alam alam iki wes di jogo
leluhur. Tenang ae.
Petani 2 : tapi, kalau seumpama tanah kita direbut terus di jual
bagaimana? Terus hutan hutan adat yang selalu kita jaga? Terus pohon yang
barusan kita tanam?
Petani 1 : yaaaa biarin. Jual saja sekalian. Dapat uang to
Istri 1 : hehhh apa to ini. apa nggak ingat pesan leluhur kita.
Alam harus dijaga, pohon jangan di tebang. Nanti malapetaka datang
Petani : iyaa tahu, aku kan bercanda ae.
*Percakapan itu terus berlanjut dan mereka bersenda gurau sambil
makan bersama (dibutuhkan improvisasi pemain untuk menambah percakapan ini)
Adegan 3
*terdengar suara jejak jejak kaki.
Mereka kaget suara siapa itu karena suara itu semakin jelas dengan
riuh riuh keributan semakin jelas. Kedua petani mencari sumber suara dan benar
saja itu merupakan keributan antara para pemilik tanah adat dengan pihak yang
mau membeli paksa lahan lahan itu.
Petani 1 masuk ke siluet untuk adegan melawan
Petani 2 gantian masuk untuk adegan melawan
Mereka keluar dengan merangkak tak berdaya.
Istri mereka mendatangi para suaminya untuk menolong dan kedua
petani terus merangkak ke bibit pohon dan berpesan kepada mereka. Jaga pohon
ini, jaga hutan hutan ini, jaga tanah tanah ini. Untuk kehidupan anak anak cucu
kita.
Selesai.
*ditutup dengan musikalisasi puisi atau backsound nyanyian anak
sungai utik
Tanah leluhur jangan pernah kita gadai demi untung sementara
Tanah leluhur sungai ini rimba ini hidup kita selamanya
Dst.
Nb:
· pemeran istri kondisional menyesuikan pemain
·
0 Komentar