REVIEW BUKU SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI

Sumber: Gramedia


REVIEW BUKU SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI 

Lek kowe kepengen bunuh diri, koyok e cocok moco iki disik. Lah, tapi sek to, emang enek wong sumpek terus kepengen moco buku?

Buku ini merupakan buku megabestseller (bukan megaw***). Diterbitkan pada januari 2025 dan sekarang buku ini sudah mencapai cetakan ke 8. Edan. Memang belakangan buku ini cukup tenar di kalangan pecinta buku. Kalian tau? Bahkan ada yang ngomong, buku karya Brian Khrisna ini merupakan buku yang wajib dibaca setidaknya sekali seumur sehidup. Weladalah, emang apik tenan to?

Buku ini ada 12 bab di dalamnya dan semuanya mengisahkan mengenai kehidupan tokoh utama yakni Ale. Seorang yang gemuk, hitam legam, dempal, perokok, pemabuk, males resik2 kamar, sering dibully karena lemu, ambune gak enak, dll. Sek to? Ale iki kok jan lengkap banget to masalah urip e.

Karena hal hal itulah Ale ingin bunuh diri. Karena apa? Karena tidak ada satupun dalam hidupnya yang bisa dibanggakan. Bahkan orang tuannya saja selalu merendahkannya dari kecil hingga ia berumur 37 tahun. Yungalah, ngesakno yo.

Tapi njur kowe kabeh bayangno, mosok iyo arepe bunuh diri iseh pengen mangan mie ayam? Meski unik, tapi inilah yang dilakukan oleh ale. Ia ingin menikmati semangkuk mie ayam sebelum ia mati. Jadi selama 24 jam sebelum mati, ia foya foya dan membeli apapun yang ia mau.

Tapi apese ketika Ale akan membeli mie ayam, warungnya tutup. Dan dari sinilah perjalanan awal mula Ale dimulai. Tiba tiba datang orang ke gerobak mie ayam pak Jo. Ternyata itu bukan Pak Jo, tapi orang asing yang akan membeli gerobak mie ayamnya. Eh lah, la pak jo nyandi? Akhirnya Ale memutuskan untuk pergi ke rumah Pak Jo atas bantuan orang asing tadi. Dan ngerti nggak? Pak Jo tibakne meninggal. Dan mungkin dengan roso clingak clinguk, Ale dengan terpaksa mengikuti seluruh rangkaian kematian Pak Jo hingga menguburkannya.

Setelah selesai, Ale pergi untuk membeli rokok. Walah walah, tibak e Ale malah dadi korban tangkap paksa penjualan narkoba. Ditangkap intel, digebuki polisi, dipenjara, di dalem penjara masih dadi olok olok an. Yungalah. Padahal Ale orang yang tidak pernah tau gelapnya dunia termasuk narkoba.

Perjalanan dimulai bertemu Murad, seorang petinggi Geng wilayah situ. Ia juga ditangkap karena …. Tidak saya tulis … ini akan membuka sisi gelap polisi Armenia. Mereka berdua lepas dan perjalanan Ale dimulai ketika menjadi anak buah Murad. Perjalanan hidup ia lalui, mulai berkelahi, memasuki bar dan bertemu LC LC sing ayu ayu. Tapi sayangnya, Ale ngga pernah mau untuk mencicipi rasa surga dunia mengganti oli selakangan. Meski untuk satu celupan saja. Karena ale takut dosa. Lah emang bunuh diri gak dosa? Guoblok.

Ale terus melanjutkan perjalannnya yang ternyata sama sekali tidak bisa Ia tebak. Wong pinginnya hanya makan mie ayam sebelum bunuh diri, eh, malah begini alur hidupnya. Hidup tak segan, matipun enggan. Jarene ngunu.

Pertemuan orang demi orang ia lalui. Hingga ia merasa bahwa luput dan tidak melihat hal hal kecil dalam hidupnya. Hal hal kecil itu tertutupi oleh berbagai kekesalannya terhadap dirinya dan hidupnya. Akhire, Ale? Yo ndak jadi bunuh diri.

Novel ini berdasar wawancara langsung para pengidap depresi akut. Dirangkum dan dibuat alur cerita yang sangat bagus. Alur cerita novel ini ibarat film film. Beneran, uapik jika dibuat fim. Tapi bagiku, alur alur cerita novel ini cukup bisa di tebak.

Bahasa dalam buku ini beuh sangat ringan boss. Uenak. Bahkan jika kau seorang pembaca, mungkin butuh seharian saja untuk melahap buku ini. ringan banget, enak jika dibawa bawa ngopi santai.

Jangan pernah malu untuk menerima diri sendiri. Tapi jika engkau belum bisa merasakan Bahagia, kamu setidaknya harus merasakaan sedih dulu. Emang paradoks hidup ini. tapi ya gitu. Untuk merasakan sembuh, kita harus merasakan sakit dulu.

Bacalah dan belajarlah dari Ale. Belajarlah dari pengalaman orang lain. Mosok iyo kudu ditangkep intel disik baru belajar hidup?

 

Judul Buku : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Penulis : Brian Khrisna

Penerbit : Grasindo

Tahun Terbit : 2025

Tempat Terbit : Jakarta

Tebal Buku : 216 hlm

Harga Buku : 93.000

Reviewer : Mohammad Akib

    

Posting Komentar

0 Komentar