Part 2
Kuliah di UIN. Kampus yang rata rata mahasiswanya
adalah seorang santri. Walau tidak semua juga sih tapi bisa dipastikan jika
mahasiswanya memiliki kemampuan agama yang cukup mumpuni (Demit aja minder
untuk menggoda, emang mau di timpuk sama lantunan ayat suci?).
Kalau nggak percaya dengan kemampuan keagamaan mereka,
coba tanya aja kapan runtuhnya Daulah Abassiyah. Untuk keruntuhan total dari
Daulah Abassiyah sendiri pada tahun 1258M yang di sebabkan salah satunya oleh
serangan bangsa Mongol (Itu tadi gua sercing di google). Meski demit minder
untuk menggoda anak UIN tapi keimanan mereka akan tetap diuji oleh musuh
beratnya yakni adalah nafsu.
Dengan kuliah di UIN tentunya gua memiliki teman teman
yang lebih banyak mondok daripada ngekos. Kenapa? Ya tanya aja mereka. Ada
temen gua yang katanya tidak betah berada di pondok karena beberapa peraturan
yang membuatnya kurang nyaman (jujur aja sebetulnya pingin bebas)
Banyak teman temannya yang tidak kerasan juga berada
di pondok. Akhirnya temen temennya banyak yang keluar. Aku nggak bisa bayangin
gimana jika pengasuh pondoknya ikutan keluar juga. Masa iya temenku yang jadi
pengasuhnya. Nasip baik, masih ada teman yang ngekos. Alhasil kamarnya jadi beskem
kami setiap ada tugas tugas yang rasannya seperti ngajak berperang melawan
kolonial Belanda.
Kemarin adalah pertemuan terakhir matakuliah di
semester 3. Dimana hati berdegub degub dan selalu terbayang bayang memikirkan apakah
aku lulus atau mengulang di semester depan. Ingat, yang penting adalah ketika
engkau bisa lulus dari pertanyaan pertanyaan malaikat nantinya.
Biasanya pada pertemuan akhir, kita akan berfoto
bersama dosen sebagai kenang kenangan bahwa kelas sudah berakhir. Namun, saat
mulai tertata formasi fotonya yang udah seperti foto timnas sepak bola Indonesia.
Baru sadar bahwa tidak ada yang memfotokan kami. Teman teman saling suruh untuk
menjadi ahli fotonya. Lantas aku mencoba angkat bicara untuk menengahi.
“Gini kawan kawan, biar adil semua, alangkah baiknya
pak dosen saja yang memfotokan” kataku dengan bijaksana dan entah kenapa muka
teman teman jadi berkeringat.
“Kalian mau, tidak saya luluskan?” Pak dosen said
Bersambung…
.png)
0 Komentar