.png)
Ilustrasi. Sumber gaetlokal.com
Kebudayaan merupakan identitas bagi kita terkhususnya bangsa Indonesia. Kebudayaan sendiri sudah melekat pada hampir seluruh bagian besar masyarakat. Tidak bisa kita pungkiri, bangsa kita memiliki nilai nilai luhur, nilai filosofis di setiap perilaku kehidupanya. Nilai nilai luhur tersebut juga diperas dan dijadikan dasar negara kita yakni pancasila.
Masyarakat selalu menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada. Bisa kita lihat bagaimana keraton Jogjakarta, Surakarta dan beberapa keraton lain yang masih kokoh tegap berdiri hingga saat ini. bukan berhenti sampai disitu saja, tapi ajaran ajarannya disana pun juga masih dilestarikan hingga sekarang. Sebagai contoh tradisi grebek suro di Keraton Surakarta. Dengan masih adanya tradisi tersebut hingga saat ini, merupakan salah satu bukti bahwa masyarakat selalu menjaga dan melestarikan budaya warisan hingga saat ini .
Contoh lain misalnya, bisa kita lihat saat agenda besar negara tiba
yakni bulan agustus. Banyak masyarakat jawa yang mengadakan bersih desa,
slametan, dll. hal ini juga merupakan wujud melestarikan tradisi budaya yang
turun menurun dilakukan. Tradisi tradisi ini merupakan identitas kita dan ciri
khas kita sebagai bangsa Indonesia. Bukan tanpa alasan tradisi ini dilakukan.
Tradisi ini bisa berlangsung dan dilanjutkan hingga generasi sekarang ini
karena mengandung nilai kehidupan yang luar biasa diantarannya silaturahmi
antar tetangga, shodaqoh, dan doa bersama.
Terkadang budaya budaya tersebut bisa saja bertabrakan dengan beberapa
paham. Misal yang biasa kita temui terdapat orang yang melarang mengadakan
bersih desa, slametan, dsb karena haram atau bid’ah. Ya, kita pasti sudah tahu.
Bagi saya tidak apa apa berpaham bahwa kegiatan ini atau itu tidak boleh,
kebudayaan ini haram, dsb. Namun, jangan sampai membuat suatu kegaduhan atau
keramaian di masyarakat. Karena kita tahu sendiri, jika setiap orang diberikan
kebebasan untuk memilih keyakinan dan kepercayaan yang dipahami selagi tidak
bertentangan dengan aturan yang ada di NKRI.
Kebudayaan dan agama tidaklah bertentangan. Bahkan budaya dapat
menjadi jalan agama. Bisa kita lihat bagaimana bentuk ornamen masjid atau
mushola yang tersebar di seluruh Indonesia khususnya jawa. Bentuknya atapnya
serupa bangunan peribadatan pura bagi umat hindu. Walisongo juga menggunakan
dakwah dengan pendekatan budaya seperti dengan wayang purwo dengan selalu
memasukan nilai nilai islami di dalam lakonnya.
Bagi Gus Dur, agama dan kebudayaan memiliki hubungan yang
ambivalen. Agama menggunakan kebudayaan secara masif untuk berbagai acara salah
satunya untuk mengagungkan Tuhan dan juga dalam rangka mewujudkan bagaimana
hubungan indah antara ciptaan dan Sang Pencipta. Coba kita cermati lambang,
patung dan lukisan tentang penyaliban Isa al-Masih. Kita juga bisa melihat
kaligrafi kaligrafi yang terpampang di setiap masjid atau mushola. Hal ini
membuktikan bahwa budaya dan agama tidak dapat dipisahkan.
Dalam salah satu artikel yang ditulis oleh Gus Dur, agama memiliki
fungsi terhadap kebudayaan. Ada 2 fungsi diantaranya sebagai fungsi inspiratif
yakni memberikan kekuatan pendorong bagi hidup berbudaya dan fungsi normatif
yakni mengatur dan mengarahkan hidup berbudaya itu sendiri kepada jalur yang
dibenarkan oleh keimanan seorang muslim.
Persepsi masyarakat pun terhadap kebudayaan dan agama pun juga seperti layaknya saling berhadap hadapan. Tidak jarang juga pola pikir yang seperti ini membawa ketegangan tersendiri di tengah masyarakat. Kita bisa melihat pemahaman kebudayaan Gus Dur. Kebudayaan merupakan hasil perkembangan gaya hidup manusia dan kebudayaan itu tidak pernah stagnan atau statis. Kebudayaan akan terus berkembang dengan seiring waktu. Bisa saja hal yang dahulu dipandang pantas sekarang bisa dipandang tidak pantas. Dahulu bisa dipandang suatu hal yang umum sekarang malah bisa dipandang suatu hal aneh.
Oleh karena itu, kita sebisa mungkin jangan berfikiran sempit terhadap hal hal yang kita jumpai seperti adanya 2 hal ini yakni agama dan kebudayaan. Mereka akan terus berkembang sesuai dengan zamannya. Namun, dengan begitu apakah kebudayaan akan secara mutlak menjadi kawan dan jalan bagi agama? Kebudayaan harus diberikan lingkup dan batas batasnya agar tidak menjerumus pada kebudayaan yang bebas. Salah satunya dengan membuat legitimasi. Legitimasi digunakan agar dapat menjadi alat pengerem. Hal ini akan menjadi penyaring terhadap hal hal yang sekiranya mampu bertentangan dengan agama.
Gus Dur telah mengajari kepada kita tentang bagaimana toleransi terhadap budaya, agama, kepercayaan dan keyakinan, suku, dan etnis. Maka dari itu, tugas kitalah untuk meneruskan pikiran pikiran beliau dan membawa perubahan baik kepada masyarakat sekitar.
0 Komentar