pembasan ini mungkin kurang nyaman bagi sebagian orang.
Kelam kelamin merupakan buku kumpulan cerita pendek pertama milik
seorang pegiat isu isu perempuan yaitu Laviaminora. Buku ini secara terang
terangan memberikan label 18+ pada sampul awal bukunya yang memberikan arti
bahwa buku ini berisi kisah yang begitulahh. Didalamnya berisi 13 cerpen dan teman teman tidak usah kuatir karena buku ini langsung di apresiasi oleh seorang feminis dan sosiolog UGM.
Tidak perlu waktu lama bagi kita untuk membaca cerpen cerpen di dalam buku ini karena bahasanya sungguh ringan dan bisa diterima siapapun. Setiap cerpennya selalu memberikan pesan dan makna yang mendalam khususnya terhadap permasalahan kelamin. Ya paling tidak sesuai judulnya. Saya cukup tercengang ketika membaca cerpen demi cerpen dalam buku ini. Bukan karena cerita 18+ nya, tapi karena pembawaan kisahnya yang bahkan saya tidak mampu menebaknya sama sekali.
Ada salah satu kisah tentang seorang perempuan yang bekerja di kota
besar. Orang tuanya mencoba mengunjunginya. Ketika sampai ayahnya tidak sengaja
memetik rambutan merah yang berada di belakang kontraanya. Ketika ayahnya
memakanya ternyata rambutan tersebut terasa sungguh manis dan segar. Begitu
juga yang dirasakan ibunya. Segar dan manis membasahi tenggorokan mereka. Tidak
dengan sang perempuan tersebut. Ia malah terasa ingin muntah. Ingat di ingat ia
pernah mengubur sesuatu di situ yang ternyata....... ya, ini tidak
saya spil kawan kawan kuh semua. Saya menghargai karya hebat ini.
Saya juga merasa amat ingin mengajak duel seorang ustadz yang
meraba raba santri kecilnya hingga mereka beralasan seribu kali untuk tidak
datang ke TPQ. Bajingan kau Sayuti. Tidak berhenti disitu, perasaan saya juga
di aduk aduk ketika sampai di cerpen terakhir. Seorang ibu yang menghabisi
nyawa nyawa preman yang telah menodai anak perempuan kecilnya. Untuk Azizah,
bersyukurlah karena punya ibu bak pahlawan. Ibumu telah melewati masa sulit
hingga mampu menjadi yang engkau lihat sekarang.
Ini masih kisah dalam cerpen dalam buku ini. Hmm, coba kita agak merembet sedikit keluar ke beberapa dekade waktu terakhir ini. Dalam berita kira kira ada berapa ya kasus serupa? Pelecehan di
pesantren? Oknum guru? Temannya sendiri? buanyak banget dah.
Saya selalu berpikir dan juga diliputi hati yang sedih. Mata saya
berkaca kaca. Hal ini selalu saya alami ketika mendengar seorang yang telah
berubah karena mengalami trauma masalalu yang cukup berat. Ada seorang anak SD pernah di raba raba oleh seseorang laki laki dewasa yang barakibat ketika ia besar menjadi seorang kaum pelangi. Ada
seorang perempuan yang berkelana menjajal setiap lelaki dan membebaskan
fantasinya karena ia punya pengalaman pernah di lecehkan oleh belasan laki laki
ketika masih kecil. Ya ampun. Hal ini terkadang tidak pernah kita bayangkan.
Saya sama sekali tidak mendukung segala perbuatan yang
menyimpang. Hanya saja terkadang perilaku menyimpang yang dilakukan tersebut
berawal dari masalalu kelam yang telah dialami oleh seseorang. Masalalu
tersebutlah yang menjadikan seseorang mencari pelarian.
Coba kita bayangkan korban korban tersebut. Mereka tidak pernah
mengingkan hal itu terjadi kepada mereka. Mereka mengalami pengalaman paling
buruk dalam dirinya. Apalagi yang biasa menjadi korban adalah wanita. Setelah
kejadian itu selesai mereka akan terbelenggu dalam perasaan yang kalut.
Menjalani kehidupan selanjutnya dengan penuh perasaan inverior. Sedangkan
pelaku? Ya, mereka akan terus hidup layaknya biasanya. Tanpa menghadapi
sakitnya, susahnya, hidup dengan tragedi kelam dalam hidup.
Perasaan itu tidak mudah untuk disembuhkan. Hanya sedikit bagi
korban yang berani speak up tentang apa yang telah mereka alami. Karena mungkin
mereka tahu, jika speak up mereka akan malah dicemooh perihal kejadian apa yang
telah ia alami. Fyuhh.
Buku ini adalah salah satunya jika kita ingin melihat bagaimana carut marutnya dunia ini (dunia perkelaminan). Bukan berarti menormalisasikan kisah kisah seperti ini, tapi kisah ini malah menjadi pembelajaran bagi para pembaca. Saya mengajak kawan kawan semuanya untuk peduli terhadap korban korban siapapun itu. Entah itu korban bullying, pelecehan, dll. dengan cara apapun yang kita bisa. Mari tetap tersenyum dan memberikan senyuman kepada siapapun meski hidup kadang bajingan.
Terima kasih mbak Laviaminora yang telah membuat cerita cerita pendek ini. Semoga bisa memberi banyak manfaat dan pengalaman bagi kami anak anak muda. Terima kasih juga kepada yang telah meminjami buku kepada saya, semoga sehat selalu. Oh iya, teman teman bisa juga mengikuti karya Laviaminora serta isu isu perempuan yang ia bahas di IG Laviaminora.
Judul Buku : Kelam Kelamin
Penulis : Laviaminora
Penerbit : Interclude
Tahun Terbit : 2020
Tempat Terbit :
Yogyakarta
Tebal Buku : 130 hlm
Harga Buku : -
Reviewer : Mohammad Akib

0 Komentar