Sore hari, Abdi perlahan membuka hp miliknya untuk melihat pengumuman hasil penerimaan mahasiswa baru di kampus yang cukup favorit. Setelah dibuka, betapa senangnya ia ketika tercatat dalam jajaran nama yang diterima masuk kampus dengan jurusan sejarah. Memang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan hal itu. Bukan tanpa sebab Abdi mampu diterima, Abdi memang anak yang pandai dalam hal sejarah semenjak ia berada di bangku sekolah. Meski begitu, ia tetap lugu layaknya anak anak desa pada umumnya.
Rasa rasannya akan hambar jika berita
menggembirakan ini ia pendam sendiri. Pertama ia memberi tahu ibunya akan
kelulusannya. Setelah itu, Abdi langsung keluar rumah untuk menemui Eyang Kartono
di sanggar. Namun, tanpa sepengatahuan ibunya. Tempatnya memang tidak jauh dari
rumahnya. Tempatnya terlihat sangat asri dengan pohon kelapa terletak di depan
teras dan rerimbun bambu di belakang sanggar. Terlihat seorang dengan rambut
gondrong putih diikat keatas, mengenakan sarung compang camping dan sedang
duduk bersantai di teras sanggar dengan sebatang kelembak kemenyan di himpitan
jarinya. Beliau itulah Eyang Kartono, seorang keturunan keraton ndalem yang
menghabiskan hidupnya untuk merawat rumah peninggalan dari turun termurun.
Eyang kartono: “Hei, piye… wes ketrimo to?”
Abdi : “Loh, kok eyang tau?”
Eyang Kartono : “Gimana, sudah diterima
ngger?”
Abdi : “Sudah eyang. Hehehe, sebenarnya
saya kesini untuk memberi tahu bahwa saya diterima di kampus itu”
Eyang Kartono: “Aku sudah tau jika kamu
diterima. Kemarin orang kampus eyang kabari semua soalnya”
Abdi “loh, iya kah eyang?”
Eyang Kartono: “Ya enggak lah, emang dari
mana eyang tau mereka hahaha”
Eyang kartono sering bersenda gurau dengan
Abdi, bahkan menganggap Abdi seperti anak sendiri. Namun, tidak dengan ibunya Abdi.
Abdi sering dimarahi jika bertemu dengan eyang kartono. Disisi lain, Abdi mampu
memiliki pengetahuan sejarah juga dari Eyang Kartono dengan membaca buku
bukunya di sanggar dan sering berdiskusi dengannya.
Eyang kartono: “Kamu berangkat kuliah kapan
ngger?”
Abdi: “Masih lama eyang, satu bulan lagi”
Eyang Kartono: “Sebetulnya ada yang mau
eyang bicarakan. Tapi, hmmm. Nanti saja biar kamu yang tau sendiri.
Abdi: “Emang apaan eyang”
Eyang Kartono: “Kamu akan tau sendiri.”
Eyang Kartono: “Oh iya, kamu tau kan jika
sanggar ini sebenarnya milik orang bersejarah pada zaman dulu?”
Abdi: “Iya eyang, milik ….”
Eyang Kartono: “Iya udah jangan disebut.
Rencana eyang, rumah ini akan eyang wariskan. Tapi kamu tau kan jika hanya
keturunan asli keraton ndalem saja yang bisa mewarisi rumah bersejarah ini.”
Abdi: “Sebenarnya, jika aku termasuk
keturunan eyang, aku akan dengan senang hati merawat tempat bersejarah ini.
Tapi, sayang aku hanya bisa melihat tanpa memiliki”
Eyang kartono berdiri dan mengambil kelapa
muda yang ada di belakangnya.
Eyang Kartono: “Oh iya, ini ada kelapa
muda, tadi jatuh di depan, bawalah, siapa tau ibumu mau.”
Abdi: “Iya, eyang. Terima kasih, aku pamit
pulang dulu eyang, monggo”
Eyang Kartono: “Oh iyo, ngger, nanti malam
ke sanggar ya, eyang tunggu,” dengan senyum simpul eyang ke Abdi
Abdi: “E e nganu….. nggih eyang”
Sesampai di rumah, Abdi memecah kelapa muda
tersebut untuk ia pisahkan air dan daging buahnya. Ibunya datang dari belakang
dengan membawa beberapa pisang.
Ibu: “Kelapa dari mana le”
Abdi: “dari Eyang Kartono bu”
Ibu: “Kan udah ibu bilang, jangan ke sana
le”
Abdi: “Kenapa sih kok ibu selalu bilang
seperti itu”
Ibu: “Waktu yang akan menjawab le, nanti
kamu tau sendiri”
Abdi: “Ada apa sih bu, tadi eyang juga
bicara nanti kamu tau sendiri, sekarang ibu bicara demikian juga.”
Ibu: “Loh, eyang bicara seperti itu?” ,Ibu
Abdi kaget
Abdi: “iya bu”
Ibu: “Lololo, wes wayah e”
Abdi: “Apa sih bu…?”
Ibu: “Oh iya nanti malam tolong ke sanggar
ya le, ibu tadi habis memetik pisang di belakang. Berikan ke eyang.”
Abdi: “AHHH, IBU…, GIMANA SIH? tadi katanya
tidak boleh menemui eyang, sekarang ibu menyuruhku menemui eyang, gimana to?”
Ibu: “Tolong ya le, nanti ibu juga ikut”
Abdi: “HAH? Bukannya ibu selalu melarangku menemui
eyang. Apa jangan jangan ibu kesambet setelah memetik pisang ini? Makannya bu,
sebelum memetik pisang, bismillah dulu”
Tanpa jawaban sepatah katapun, ibunya
meninggalkan Abdi yang berusaha memecah kelapa tapi tidak bisa bisa.
Malam hari tiba. Abdi dan ibunya berjalan
menuju sanggar. Sementara itu, disanggar sudah ada eyang kartono dan 3 anaknya.
Eyang kartono: “Gimana kabar kalian setelah
merantau lama?”
Anak 1: “Alhamdulillah eyang saya baik baik
saja”
Anak 2: “Kemarin hanya sedikit sakit eyang,
tapi sekarang sudah sembuh total tal tal”
Anak 3: “Heleh gayamu, kamu sembuh karena eyang
mengabari akan memberikan sanggar ini ke anaknya kan? Wong belum pasti kalo
kamu juga yang dapat”
Anak 1: “Lololo, pede amat yo”
Anak 3: “Padahal anak terakhir lah yang
selalu diberi jatah”
Anak 2: “Bacot”
Anak 1: “Dimana mana anak pertama lah yang
akan mewarisi kelanjutannya,”
Ketiga anak itu mulai berseteru terkait
siapa yang akan meneruskan rumah, sanggar, tanah juga gelar dari eyang kartono
yang sudah turun temurun.
Eyang Kartono: “hehhhh… tsuttt, eyang tetap
akan meneruskan rumah dan gelar turun temurun ini kepada keturunan asli.”
Ketiga anak bersetru: “Yaaaaa akuuuuu. Aku
lah keturunan asli eyang.”
Eyang kartono: “Namun bukan kalian”
Ketiga anak: “Hah? Apa eyang……?”, Mereka
mulai ramai dan memperebutkan siapa yang pantas. Hal yang tanpa disadari
terjadi. Suasana yang tenang begitu cepat berubah. Orang orang saling teriak
bahkan berkata kotor. Abdi yang bukan siapa siapa, merasa takut dan mengajak
ibunya untuk kembali pulang. Namun ibunya terus menggandengnya ke sanggar.
Suasana semakin mencekam ketika barang barang mulai di lemparkan oleh orang
orang di sanggar sebagai bentuk tidak terima dengan penerus baru di sanggar.
Malam ini adalah malam ketika eyang kartono mewariskan rumah bersejarah ini
kepada penerusnya.
Ibu: “Inilah le, kenapa ibu selalu
menegurmu ketika kamu ke sanggar atau bertemu eyang. Karena ibu nggak mau nanti
kamu jadi seperti mereka. Mereka adalah orang orang yang sudah dikendalikan
amarah, dibutakan harta dan tahta.”
Abdi: “Ibuuu”, Sambil mengenggam kuat
tangan ibunya.
Eyang kartono melihat kedatangan Abdi dan
ibunya. Lantas, mendatanginya untuk bersama sama melihat siapa penerus yang
berikutnya.
Eyang Kartono: “Ngger, sini ngger, cah
bagus.”
Anak 2: “DASAR….. SIAPA YANG BERANINYA
MENGAMBIL ALIH?.”
Anak 1: “AKU TIDAK TERIMA”
Anak 3: “Eyang, kau ini sudah tua, kau mana
bisa mencari pilihan yang tepat”
Eyang kartono dengan sangat yakin dan nada
yang sangat bijaksana
Eyang Kartono: “Jadi, semua ini akan diteruskan
oleh……. Abdi.”
Abdi: “HAH, Apa eyang? Enggak? Bukan?” Abdi
terkaget mendengar itu.
Eyang Kartono: “Yah, Anak ini lah. Sang
Abdi.” Eyang
Anak 3“Eyang, siapa dia eyang. Aduh, kau
sudah tua memang. Kan eyang tau sendiri, jika yang bisa meneruskan tanah ini
hanya keturunan dari keraton ndalem. Dia siapa eyang. Ah kau sidah tua.”
Eyang hampir marah dengan menahan emosi.
Namun, dengan kesabarannya dan tetap dengan kebijaksanaannya, tangan eyang langsung
menarik kaos Abdi dengan sangat kuat hingga sobek.
“Ngger. Coba membelakangi orang orang” Eyang
menyuruh Abdi
Terlihatlah tanda lahir seperti luka sayat
di pungung Abdi. Eyang Kartono pun juga melepas bajunya dan ternyata memiliki
luka sayat yang sama. Seketika ketiga anak tadi tidak berkutik. Semua diam
seribu bahasa. Ibu Abdi yang semula diam, mulai berbicara.
Ibu: “Le, sekarang sudah waktunya.”
Eyang Kartono: “Iya ngger, Sebetulnya juga,
ibumu adalah adik eyang yang ke 3,”
Ibu: “Kenapa ibu selalu melarangmu untuk ke
sanggar dan menemui eyang? Karena ibu takut jika ada yang tau tanda ini, kamu
menjadi kenapa kenapa, mengingat banyak yang meninginkan harta maupun tahta
keraton ndalem yang sebentar lagi kamu miliki.”
Abdi: “Aku nggak percaya bu. Ibu bercanda.
Ibu kenapa semua ibu lakukan”
Ibu: “Maaf le, tapi eyang kartono weruh
sadurunge winarah atau mampu melihat apa yang akan terjadi, dan beliau
berkeinginan untuk menyembunyikan identitasmu sampai pada waktunya dibuka siapa
kamu le. Ini untuk kebaikan kita semua.”
Ibu: Luka sayat itu adalah tanda lahir yang
turun temurun. Dulu pendiri keraton ndalem ketika berperang, punggungnya sempat
terkena sabetan pedang musuhnya. Ketika diobati, lukannya berhasil sembuh tapi
tidak dengan bekasnya. Tanpa di duga, dari beberapa istrinya yang melahirkan
seorang anak, ada salah satu anak yang memiliki tanda lahir seperti sayatan di
punggungnya. Dan ternyata tanda itu terus menerus lahir generasi ke generasi
dan setiap generasi hanya ada 1 yang memiliki. Maka dari itu, tanda lahir
itulah yang menjadi siapa penerus gelar keraton ndalem asli.
Abdi: “Tapi kenapa ibu, ibu,
menyembunyikan? Kan bisa ibu bicarakan diam diam ke Abdi”
Ibu: “Cerita dari kakekmu, pernah ada
percobaan pembunuhan untuk siapa yang mempunyai tanda itu”
Abdi: “Baik, baiklah. Ibu, Eyang, dan
semua. Dengan amanat besar dari leluhur ini, aku akan menjadi Abdi, seorang
yang akan mengabdikan diri di sanggar ini, untuk budaya, untuk kelestarian
sejarah yang ada di sini.
Ketiga anak: “Yah, kami putra putri Eyang Kartono
juga akan bersama membantu untuk mewujudkan itu, Raden Abdi.” Mereka kini
sangat menghormati Abdi.
Harapannya kedepan, Abdi mampu memimpin dan
mengelola sanggar dengan semestinya. Mengingat ia mengambil jurusan sejarah,
maka, sanggar ini akan ia pergunakan sebagai pusat kajian sejarah dan wadah
bagi para pemuda di desannya. Namun, Abdi tidak akan menjadikan peninggalan
bersejarah ini sebagai miliknya sendiri melainkan milik bersama khususnya milik
bangsa Indonesia.
x
0 Komentar