Sekilas
Tentang Novel Hujan
Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu.
Diatas adalah
salah satu quote yang aku ambil dari percakapan Maryam dan Lail.
Novel Hujan karya
Tere Liye ini berlatarkan masa depan yakni sekitar tahun 2043. Pada tahun itu,
teknologi sudah sangat canggih bahkan sulit dibayangkan oleh generasi
sebelumnya.
Pada saat itu
juga, gunung api purba yang maha dahsyat meletus secara tiba-tiba. Letusannya
melebihi letusan Gunung Toba yang hampir memusnahkan kehidupan umat manusia di
dunia.
Ketika bencana itu datang, Lail
masih berumur sekitar 13 tahun. Ia masih diberi kesempatan hidup karena di
tolong oleh seorang anak laki-laki bernama Esok yang berumur 15 tahun dan
dia juga yang nantinya akan menjadi sahabat sejatinya Lail.
Meski Lail
selamat, ia harus merelakan ayah dan ibunya meninggal karena bencana tersebut.
Begitu juga Esok yang juga kehilangan saudara-saudaranya. Esok masih beruntung karena ibunya selamat meski kedua kaki ibunya di amputasi.
Lail dan Esok
kemanapun selalu bersama. Orang sekitar pun sudah hafal dengan mereka. Jika ada Esok pasti ada
Lail. Sebaliknya, jika ada Lail pasti ada Esok.
Seiring
berjalannya waktu mereka tumbuh dan meneruskan jenjang pendidikan yang lebih
tinggi sampai hubungan Esok dan Lail menjadi renggang. Di tenggah kerenggangan
itu, Esok selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Lail.
Nantinya, umat manusia akan hidup di ruang angkasa karena bumi yang ditempati sudah tidak layak huni. Ini akibat keegoisan manusia yang terus menerus mengirim gas ke luar angkasa untuk mengatasi dampak dari letusan gunung berapi yang sempat melumpuhkan seluruh dunia.
Mereka membuat kapal untuk berlayar di ruang angkasa dan sementara hidup disana sampai bumi kembali normal. Hanya orang orang terpilihlah yang dapat masuk kapal itu dan Esok memiliki 2 kartu untuk ke kapal itu.
Kedekatan Lail dan Esok sudah tidak diragukan lagi. Kartu yang didapat Esok pasti
diberikan kepada Lail. Namun, walikota menghampiri Lail dan memohon untuk membujuk Esok agar memberikan kartu itu kepada putrinya. Walikota adalah orang mengadopsi Esok
setelah kehilangan saudara-saudaranya.
Hubungan Lail dan Esok saat itu sangat renggang. Tidak ada kabar sama sekali dari Esok. Lail bingung tentang pesan Walikota dan juga tak ada kabar dari Esok. Pikiran Lail sudah kemana mana yang membuatnya semakin bingung dan akhirnya Lail memutuskan untuk mengapus semua pengalaman buruknya, termasuk bersama Esok. Padahal mereka sudah menghabiskan banyak waktu dan pengorbanan bersama. Bagaimana tentang kelanjutannya?
Akan lebih seru
jika dibaca pada novelnya langsung.
Fisik Buku
Pertama kali
melihat sampul yang bewarnya biru membuat segar dipandang mata. Tulisan judul
yang begitu simpel “Hujan” seperti menegaskan bahwa hujanlah yang paling
mendominasi pada novel ini.
Sampul belakang,
menampilkan tentang apa isi novel ini. Tentang persahabatan, tentang cinta,
tentang melupakan, tentang perpisahan, dan tentang hujan.
Jika dilihat dari
samping, buku ini lumayan tebal. Ia punya 320 halaman.
My Opinion
For This Book
Aku mengira buku
ini akan fokus ke romance mereka berdua. Ternyata, lebih dari itu. Selain cinta,
kisah tentang persabatan, perjuangan, dan bahkan pesan-pesan moral begitu
menonjol ketika kita membacanya.
Walaupun masa
depan mempunyai seluruh teknologi canggih, ternyata tidak bisa melawan yang namanya alam. Ketika manusia mulai egois terhadap dirinya sendiri dan tidak memperhatikan
alam lagi, kehancuran umat manusia adalah hasil dari ulah tangan manusia itu
sendiri.
Alur cerita meski terasa tegang. Namun, ditengah-tengah hadirlah Maryam. Ia teman Lail yang menjadikan cerita sedikit ada humor. Dan kebanyakan quotenya juga keluar dari percakapan dengan Maryam.
Bahasa yang digunakan begitu sederhana dan sangat
mudah dipahami. Alurnya juga tidak mudah tertebak. Aku kira ini sad ending tenyata happy ending. Lega deh rasanya.
Hanya saja, Lail
membuat pembaca betul-betul merasa jengkel padanya. Dia bahkan sama sekali tidak terus terang saja dalam mengungkapkan perasaanya
kepada Esok. Hanya Maryam yang dapat terus-terusan memarahi Lail atas sikapnya
itu.
Yah, Namanya
cerita. Mungkin itulah nilai plusnya karena dapat membuat pembaca merasa jengkel karena ulah dari tokohnya.
Rekomendasi
Tentunya novel ini rekomen banget untuk semuanya. Dengan kesederhanaan bahasanya, pesan
moralnya, dan tentunya feel dari kisah mereka sungguh terasa. Buku ini genre science,
fiction dan romance. Selain itu novel ini juga termasuk bestseller. Jadi, skuy
lah.
Mungkin cukup
sekian review novel kali ini. Semoga
bermanfaat dan mohon maaf atas segala kekurangan. Aku akhiri dengan sebuah
quote.
Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan. Tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat semua hal menyakitkan yang mereka alami. – Hujan by Tere Liye
Judul Buku : Hujan
Penulis : Tere
Liye
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2016
Tempat Terbit :
Jakarta
Tebal Buku : 320 hlm
Harga Buku : Rp 78.000
Reviewer : Mohammad Akib

0 Komentar