Apasih yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata puisi? Sebuah
kumpulan kata-kata indah? Atau diksi-diksi sulit yang sukar dipahami? Hmmm…
Buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karya penyair kondang ini memang sudah tidak asing di kalangan pecinta puisi. Buku ini berisi kumpulan puisi Jokpin rentang waktu 1989–2012 dengan jumlah puisi sebanyak 121 dan tentunya sudah ada perbaikan juga dalam puisinya.
Jujur untuk mereview buku puisi aku kurang pandai dalam menilai banyaknya
gaya bahasa, majas, dsb, yang terdapat dalam puisi. Jadi disini aku akan membagi pengalamanku
ketika membaca buku ini.
Ini adalah salah satu buku Joko Pinurbo pertama yang aku punya dan buku ini juga yang membuatku suka dan cinta terhadap puisi khususnya karya pak Joko Pinurbo. Kebanyakan aku baca puisi biasanya menggunakan diksi-diksi sulit yang kurang bisa dijangkau oleh orang awam atau kalau nggak gitu hanya menggunakan bahasa biasa dan perangkaian yang biasa yang cenderung membuat bosan.
Berkat buku ini aku perlahan memahami tentang puisi. Memang ketika awal
membaca buku ini aku agak kesulitan memahami maksud dari puisi puisinya, namun
ketika sudah membaca hingga beberapa puisi dan beradaptasi dengan puisinya aku
sudah bisa menangkap dan merasakan puisi tersebut.
Bahasa yang sederhana bahkan cenderung bahasa sehari-hari dapat
dirangkai dan dibawakan dengan sempurna serta menyelipkan humor didalamnya. Perlahan
puisi puisinya dapat membuat kita sejenak lupa bahwa kita ternyata sudah hanyut
masuk ke dalam dunia puisi yang dibuat oleh pak Jokpin ini.
Dalam buku ini juga terdapat sajak-sajak yang panjang, malah aku kira cerpen hehe, seperti sajak yang berjudul Laki Laki Tanpa Celana dan Liburan Sekolah yang mencapai 3 lembar. Pada sajak Liburan Sekolah ini adalah sajak favoritku karena menurutku ketika aku membaca betul betul terbawa masuk dalam suasanya dan bahkan aku juga tidak menyangka tentang apa dan bagaimana akhir sajaknya. Terdapat juga puisi pendek yang hanya satu baris seperti di bawah ini
Kepada Puisi
Kau adalah mata, aku air matamu
(2003)
Puisi pendek lainya berjudul Magrib, Bangkai Banjir, dan Doa Malam.
Sajak favoritku lainya berjudul Dengan Kata Lain. Sajak ini
tentang seorang yang mencari ojek dan ternyata ia dapati ojeknya adalah seorang mantan gurunya
sendiri. Ketika sudah mengantarkanya sampai kerumah seorang tadi belum sampai membayar,
ojeknya sudah melesat duluan. Lalu ayahnya berkata “Dengan kata lain, kamu tidak akan
pernah bisa membayar gurumu.” Jika dihayati dari awal betul-betul terasa pesan
dari puisi ini.
Perasaan dan imajinasi kita betul-betul tumbuh dan berbunga ketika membaca bait demi baitnya, jadi kayak ingin membaca setiap bait baitnya dengan perlahan dan
penuh penghayatan.
Buku ini bukan hanya buat yang pecinta puisi tapi semua orang yang ingin membaca puisi aku rekomendasikan untuk membaca buku ini. Nggak usah ragu deh untuk beli. Bagi yang awal-awal baca buku puisi kemungkinan akan beradaptasi untuk memahaminya tapi setelah itu pasti merasakan masuk dalam dunia puisinya.
Oke, review kali ini aku akhiri dengan salah satu puisi pendek dari buku ini.
Doa Malam
Tuhan yang merdu,
terimalah kicau burung
dalam kepalaku.
(2012)
Salam Literasi
Judul Buku : Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
Pengarang : Joko Pinurbo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan I, 2016
Tempat Terbit :
Jakarta
Tebal Buku : xi+192 hlm
Harga Buku : Rp. 82.000 (Bisa berbeda di toko online)
Reviewer : Mohammad Akib

0 Komentar