Review Buku Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya Di Bibirku Dengan Bibirmu


Ada yang lagi pingin membaca cerpen? Nah, kemungkinan buku ini oke nih untuk menemani waktu-waktu senggang sembari duduk manis menikmati kehidupan. Ada kali ya dari teman-teman ketika pertama membaca judul yang tertulis di sampul buku ini mengira “Wah, buku 18+ nih” dsb. Namun, buku ini sama sekali tidak ada unsur yang seperti itu kok, jadi aman dibaca siapapun.

Buku ini berisi 16 cerpen karya Hamsad Rangkuti yang mana setiap cerpen yang ia buat ada kisah yang mendalangi sehingga terciptalah cerpen tersebut. Untuk melihat latar belakang terciptanya cerpen itu kita bisa melihat di awal-awal buku ini. 

Cerpen yang ia buat seperti menggambarkan jejak pengalaman hidupnya, dari ia berkelana hingga ketika ia sakit dan hampir saja nyawanya melayang untuk selamanya.

Didalam menjelaskan latar belakangnya, penulis juga menjelaskan bagaimana teknik pembuatan cerpen tersebut bahkan untuk penulisnya sendiri yakni Hamsad Rangkuti menjuluki dirinya sendiri sebagai penulis berbakat alam. Apa itu? 

Penulis berbakat alam adalah seorang penulis yang lebih menekankan pada intuisi atau kepekaannya sebagai seorang pengarang dan bagaimana ia menangkap momen estetis dari suatu peristiwa atau pengalaman hidupnya, jadi yang utama bukan hanya teknik penulisanya. 

Kita bisa melihat bahwa cerpen-cerpen yang tersaji di dalam buku ini lebih condong sederhana, tidak menggunakan bahasa yang puisi namun lebih menggunakan bahasa sehari-hari

Cerpen awal di buku ini berjudul Lagu di Atas Bus yang menceritakan seorang penumpang di atas bus yang bergantian meminta kepada supir bus untuk mengganti lagu sesuai dengan keinginan mereka. Belum sampe satu menit lagu-lagu itu sudah bergiliran bergantian. 

Sampai pada waktunya ada seorang memakai seragam hijau yang ingin mengganti lagu yang sedang diputar menjadi lagu Indonesia Raya. Sontak semua orang tidak berani untuk mengganti, kecuali satu orang yang pada akhirnya orang itu dikeluarkan dari bus karena tidak ada tempat bagi orang yang tidak suka dengan lagu kebangsaanya sendiri. 

Dari cerpen sederhana ini meninggalkan pesan yang luar biasa memang, cuma menurutku terlalu bertele-tele dalam menceritakan pergantian lagu, sehingga aku seperti merasa bosan terlebih dahulu, apalagi kan cerpen ini disajikan di awal-awal.

Terdapat cerpen favoritku ketika membaca buku ini, judulnya Palasik. Cerpen ini mengisahakan suami istri yang bertempat tinggal di tepi hutan dan terdapat banyak penebang pohon serta pemburu. Suami dari istri itu sudah beberapa kali memantau kondisi untuk memburu pimpinan dari penebang pohon itu. Ketika malam tiba ia melakukan ritual untuk berubah menjadi sesosok siluman harimau untuk menerkam pimpinan penebang pohon itu, namun beberapa kali gagal. 

Pada akhirnya ia berhasil menghabisi pimpinan dari penebang pohon itu namun berita buruk sampai kepada istrinya bahwa ada harimau yang tertangkap dan mau dibunuh. Untuk kelanjutanya bisa dibaca sendiri di buku ini hehe. Itu salah satu cerpen yang dapat membuatku merasakan takut, khawatir, terharu dan juga bahagia.

Pada cerpen akhir inilah penulis seperti tak berdaya. Ia sakit dan harus dibawa ke rumah sakit oleh istrinya. Dalam sakitnya itu ia tiba-tiba merasa masuk kedalam sebuah cahaya dan akhirnya ia bertemu dengan ibunya, ayahnya dan juga anjingnya yang mereka semua sudah berada di alam baka. Ibunya mengajaknya agar menetap di alam baka ini dan sudahilah urusan tentang alam fana. Namun, ia menolak, masih ada banyak tugas yang harus dikerjakan. 

Setelah beberapa waktu ia siuman dari sakitnya. Grafik jantungnya sempat menunjukan garis lurus, namun dokter terus berusaha merangsang jantungnya agar kembali berdetak. Akhirnya ia dapat perlahan membuka mata dan banyak sahabat yang sudah menunggu di balik dinding kaca. Mereka memberi semangat hidup kepadanya.

Mungkin cerpen dalam buku ini terkesan sederhana, namun dapat meninggalkan kesan yang mendalam sehabis membaca. Buku ini cocok bagi kalian semua yang ingin membaca cerpen-cerpen sederhana namun bermakna dalam. 

Ketika membaca buku ini, jika merasa hambar atau bosan, baca aja terus, biasanya ada kejutan tuh. Memang awal-awal seperti bertele-tele tapi cerpen-cerpen ini bisa membawa kita masuk ke dalam suasana yang telah dibuat oleh penulis. 

Cukup sekian review tentang buku ini, kalau aku ceritakan lebih dalam nanti pembaca tidak mendapatkan feelnya dong hehe. Terima kasih perhatianya. Semoga bermanfaat.

 

Salam Literasi

 

Judul Buku : Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya Di Bibirku Dengan Bibirmu 

Penulis : Hamsad Rangkuti

Penerbit : DIVA Press

Tahun Terbit : 2016

Tempat Terbit : Yogyakarta

Tebal Buku : 236 hlm

Harga Buku : Rp 70.000 (Harga Normal)  

Reviewer : Mohammad Akib

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar