| Pict by: alona.co.id |
Rasanya senang sekali ketika melihat anak-anak bermain di pelataran sekolahan. Mereka bermain bersama, bercanda bersama, saling mengungkapkan cerita, atau bahkan berkelahi dengan temanya. Ya, namanya juga anak-anak.
Tapi pernah kah kita berpikir, mereka nanti mempunyai hasil yang sama atau tidak? Dalam artian begini, mereka belajar bersama dalam satu kelas, guru yang sama, buku yang sama, makanan juga sama (nasi) tapi mereka nanti punya hasil prestasi yang berbeda.
Selain dari
faktor pembawaan si anak ya seperti IQ, namun dari faktor lain seperti yang akan
saya bahas di bawah ini. Sebelumnya saya disclaimer dulu bahwa ini murni opini
saya pribadi, jadi mungkin beberapa ada yang tidak cocok dengan pandangan para pembaca. Yah, namanya juga
opini.
Di era berkembangnya teknologi seperti sekarang ini banyak berita baru bermunculan lewat media sosial, tv seakan hilang daya tariknya digeser oleh eksistensi media sosial. Selain berita, orang orang juga tidak jarang mengunggah keberhasilannya, kesuksesannya di akun media sosial mereka, dari menceritakan kisah awal yang penuh perjuangan hingga kisahnya yang meraih kesuksesan.
Banyak sekali hal seperti ini terjadi,
bahkan mungkin juga ada yang tidak menyangka, tiba-tiba sukses begitu saja (walaupun
sukses itu relatif bagi setiap orang). Alhasil banyak yang membandingkan satu
dengan lainnya atau bahkan kita sendiri yang membandingkan diri kita dengan
orang lain.
Dari apa yang terjadi
tersebut, beberapa perilaku yang dilakukan oleh mereka ternyata tidak jauh
berbeda dengan kebanyakan orang yang mendapatkan keberhasilanya. Ini akan saya
uraikan dibawah. Hal hal berikut ini yang saya amati hampir mirip dan bisa
menjadi faktor penunjang keberhasilan mereka.
1. Ketekunan
Ketekunan dalam KBBI berarti kesungguhan. Saya percaya dalam kesungguhan pasti ada keberhasilan dan itu nyata. Saya mengamati dari banyak teman-teman yang mendapatkan kampus impian karena mereka tekun untuk belajar dan memperjuangkannya. Bukan hanya belajar selama beberapa minggu tapi berbulan bulan bahkan ada yang sudah mempersiapkan jauh dari tahun-tahun sebelumnya.
Mereka tekun untuk memperjuangkan apa yang ia inginkan dan harapkan. Namun terkadang rezeki atau nasip dapat berkata lain. Kita sudah tekun belajar dan berjuang dengan gigih namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
Percayalah, jika kita sudah benar-benar berjuang semaksimal apa
yang kita mampu tapi hasil yang kita harapkan tidak sesuai, kita tidak akan
merasakan sebuah kekecewaan karena kita sudah berjuang maksimal, kita punya
cerita, kita punya nilai dalam proses perjuangan tersebut dan nilai proses itu
menurutku lebih berharga ketimbang hasil yang didapatkan.
2. Konsistensi
Konsisten adalah tetap dan tidak berubah atau dalam agamanya istiqomah kali ya. Baru-baru ini jagat maya dibuat ramai dengan viralnya bang Ghozali (pake bang karena lebih tua) Ig nya @ghozaliphoto. Itu bener-bener membuat banyak orang kaget. Ya kali dengan modal foto datar bisa mendapat uang hingga 13 miliar, siapa yang tidak tergoda.
Lantas, banyak yang menirukan gaya ghozali tersebut dengan berharap mendapat
hasil yang sama. Oh tidak semudah itu. Kita tarik kebelakang proses bang
ghozali ini. Ia mencoba iseng menjual foto fotonya sejak usia 18 hingga 22
tahun. HAH, 5 tahun bayangkan dan itu ia konsisten foto setiap harinya hingga
menghasilkan foto sebanyak 933. Gila. Pantes dong mendapat buah dari
konsistesinya.
Saya ambil contoh lain dari teman terdekat di sekolah. Saya mengamati teman-teman yang berhasil kala mendapat kampus impian. Walaupun banyak dari temannya yang merasa “wah itu hoki, blablabla, dsb” Aku coba tarik kebelakang, kira-kira apa sih yang menjadi pendorong mereka untuk mendapatkan itu.
Aku percaya mereka punya konsistensi
dibelakangnya dan benar saja mereka punya. Banyak yang aku amati ia rajin untuk
mencatat materi, ada lagi yang ia istiqomah sholat dhuha, tadarus qur’an di
pagi hari, dan melakukan amalan-amalan sesuai dengan yang diberikan oleh guru
atau kyainya, yang di pondok rajin ngaji dan tahajud, rajin membantu orang tua,
dll. itu semua menurutku sebuah konsistensi yang layak dibayar dengan sebuah
keberhasilan.
3. Kejujuran
Zaman sekarang memang susah mencari orang jujur. Misalnya saja ketika kita ujian disekolah, coba presentase orang jujur dengan tidak jujur lebih banyak mana hayo? Ya memang pada faktanya nilai lebih berharga sih daripada kejujuran.
Tapi biasanya orang jujur banyak
disukai oleh pemilik kerja, karyawan yang jujur akan lebih dipercaya oleh bos
nya. Pada intinya, kejujuran adalah suatu hal yang utama dan sulit digantikan
dengan apapun. Lantas, bagaimana tuh bapack-bapack yang nilep uang rakyat?
Jujur nggak tuh? simpulkan sendiri ya HAHAHA.
4. Keikhlasan
Selain kejujuran, ada keikhlasan. Aku yakin nih, bang Ghozali nggak akan kuat foto selama 5 tahun tanpa adanya keikhlasan dan orang-orang ambis nggak mungkin bisa konsisten dalam belajar tanpa keikhlasan.
Memang keikhlasan adalah awal dari kita
melakukan sesuatu hal sambil tentunya dibarengi niat yang tulus. Selain ikhlas,
kita setidaknya juga harus menyukai hal yang kita lakukan agar ketika kita
melakukan sesuatu hati kita tidak merasa terbebani.
5. Lingkungan dan Orang Terdekat
Menurutku dari semua hal tadi, yang cukup berpengaruh adalah faktor lingkungan dan orang terdekat. Pola asuh yang dilakukan oleh orang tua sangat berpengaruh pada proses berpikir maupun perilaku anak dimasa mendatang.
Mungkin kali ya ada istilah buah jatuh tidak jauh dari pemetik, eh pohon maksudnya. Banyak contoh yang bisa kita lihat seperti azka corbuzier. Pada umurnya yang belum ada 17 tahun sudah memiliki berbagai prestasi dan yang bikin aku salut adalah dia juga pemegang 5 sabuk hitam dari 5 beladiri yang berbeda. Ngeri nggak tuh? Gua mah masih mancing ikan kali dan ngopi ga jelas.
Contoh lain yang kita sudah tidak asing adalah Maudy
Ayunda. Orang tuanya menanamkan rasa ingin tahu, suka membaca, tanggung jawab
dan beberapa kisah itu diceritakan lewat sosial media ibunya.
Mungkin kita sebagai
orang yang awam kadang berpikiran “Ah ya pasti mereka sukses lawong didikannya
bagus, uangnya banyak, dll.” tapi kita juga tidak menutup kemungkinan untuk
meraih keberhasilan dan kesuksesan seperti mereka. Dengan tekad yang kuat, niat
yang tulus, dan ketekunan serta doa-doa yang kita panjatkan pasti kita akan
memanen hasil yang terbaik versi diri kita sendiri.
Menurut saya keberhasilan
adalah ketika kita mempunyai sebuah tujuan dan tujuan itu dapat kita raih
sedangkan kesuksesan adalah penilaian orang lain terhadap kita. Terkadang orang
bisa melihat dan menilai seseorang sukses tapi yang disangka sukses belum tentu
merasakan sukses.
Hidup memang penuh perjuangan dan tantangan. Sering kali kita melihat kesuksesan orang lain dan kita cenderung untuk merasa iri dan ingin menjadi mereka. Bukankah setiap orang itu punya keberhasilan dan kesuksesan yang berbeda?
Setiap manusia sudah dibekali porsi masing-masing. Tugas kita sebagai manusia adalah belajar dan terus belajar kapanpun dan dari siapapun itu. Lakukanlah apa yang telah kita mulai, nikmati setiap prosesnya, serta raihlah keberhasilan dan kesuksesan versi diri kita sendiri. Bahagiakanlah kehidupan.
Saat percaya bahwa Anda bisa, Anda telah setengah jalan menuju kesana.
Theodore Roosevelt
0 Komentar