
SEKUNTUM
SAJAK YANG DI BUANG
Dibawah rerindang pohon
kampus. Angin yang perlahan meraba tubuh. Langit saat itu sedang berselimut mendung
di penghujung senja. Aku sejenak bersandar pada pohon rindang depan kelas untuk
menunggu temanku yang masih ada jam kuliah. Dari kejauhan nampak seorang
perempuan jalan di teras depan kelas. Ia duduk di samping anak tangga, tepat di depan pandanganku. Jika
dilihat tampaknya ia juga sedang menunggu temanya. Entah siapa namanya, selama
ini aku baru saja melihatnya. Semesta sedang bergurau atau apa tapi mendung
menetas jadi anak anak hujan, jatuh begitu saja menjadi penghalangku untuk
melihat dia. Ahhh, gerutuku dalam hati.
Karena hujan, aku cari
tempat berteduh. Mau tidak mau ya lari ke depan kelas tempat dia duduk itu. Mau
menyapa malu, tidak menyapa takut di anggap anti sosial. Aduh bingung tak
terhindarkan. Menyapa, tidak, menyapa, tidak, menyapa, tidak. Ah sudahlah, aku cari
jawabanya lewat uang koin. Jika tanda gambar garuda berarti menyapa sedangkan tanda
nominal uang berarti tidak menyapa. Aku kocok-kocok dengan kedua tangan dan aku
buka ternyata gambar nominal uang. Pikirku tenang. Setelah tahu jawaban itu,
aku sapa mbaknya.
“EHEEMM” Suara dehemku yang seperti orang barusan kencing.
“Lagi ngapain mbak?”
“LAGI CEBOK... YA NGGAK
LAH, lagi tunggu teman”
Buset... bisa gini ya jawabnya? tapi jika di lihat, mbak ini memang suka bercanda, humoris, dan seperti pingin dipukul. Terasa hujan semakin deras. Aku nggak mau membuang waktu. Aku mencoba
bercakap ringan denganya. Oh, ternyata dia yang bertanya duluan.
“Kamu sendiri ngapain
disini?” Suaranya kalem, tidak seperti tadi. Mungkin Ia punya 2 kepribadian yang nama kerennya dobel..... doble degre atau apa sih? jangan sok tau lu.
“Lagi nunggu hujan tenang
mbak, biar kalau pulang tidak basah di guyur kenangan.”
“Puitisss”
“Oh iya mbak, perkenalkan
aku Rendi, salam kenal.”
“Mbaknya sendiri siapa namanya?"
“Namaku Lis....”
“Heh, yuk balik” Tiba-tiba temanya menepuk pundaknya dari belakang.
“Hmmm, aku balik dulu Ren.”
“Iya Iya.” Aku manggut
saja. Terpana saja sih dengan si Lis... lah, tadi siapa namanya? Alis? Listyo sigit?
Astaga siapa tadi...?
Tak beberapa lama,
temanku datang. Dengan kacamata dan rambut acak acakan yang menjadi khas bagi dirinya. Suarannya memang agak berat dan perawakan yang kekar. Tapi aslinya orangnya tulang lunak. Namanya Renald.
“Yuk Ren pulang”
“Eh tadi ada wanita, siapa
ya? ya ampun lupa namanya, lo tau nggak?”
“EH BUSET... lo kira nih
kampus hanya ada satu wanita, banyak kali!”
“Yaudah besok aja semoga
ketemu lagi.”
“Yaelah centong sayur, lu
kenapa? Eh gua bilangin, wanita itu bakal datang sendiri tanpa lu harapin.
Contonya nih gua, selalu di datangi wanita dulu waktu SMA, mana langsung datang
ke rumah tanpa aku chat”
“Itu guru BK ya ANJENG!”
Yah, emang kadang berhala
satu ini suka menambah beban di hidupku. Tapi percayalah tanpa dia, duniaku
sepi tanpa adanya komedi.
Satu milenium sudah
berlalu. Aku masih saja teringat akan paras si Lis itu. Setidaknya, itu yang
masih aku ingat dari namanya. Seorang wanita humoris, ya walau aku yakin dia
tidak secuek seperti pertama aku berbincang dengan nya.
“RRRrrrrr” Getar hp di
saku. Aku buka ternyata si berhala ngechat mau ngajak ngopi di sekitaran
kampus. Dengan motor kepala getar alias motor SUPPP..... SUPRAnatural,
berangkat deh. Setiba di tempat ngopi aku bilang kalau aku pesan kopi 3rb an,
itung itung menghemat uang di kos.
“Bentar Ren, aku mau
ngajak teman.”
Tak berselang lama,
datang deh seorang wanita bermasker menghampiri temanku. Pandangan nya seketika
menoleh kepadaku.
“Loh, Rendi... apa kabar?”
ucap si wanita itu. Perasaanku kaya nggak asing dengan suaranya. Ia perlahan
membuka masker dan
“Loh Lis,” kataku dengan
kaget.
“Iya Lisa, maafnya
kemaren aku kelihatan cuek banget. Soalnya aku suka begitu dengan orang yang
belum aku kenal.” Ucap Lisa dengan nada yang berbeda saat pertama kali aku
bertemu. Memang sudah kuduga kalau Lisa anaknya memang tidak secuek itu. Karena
merasa cocok ya lanjut bersenda gurau tanpa terasa, apalagi anaknya punya
selera humor yang sama.
“Eh gua ngapa ini disini”
ucap si temanku yang dari abad kemarin tidak diajak ngobrol.
Selang beberapa lama,
temanku ngajak pulang katanya ada tugas negara yang harus di tunaikan. Yaudah
aku ikut saja. Aku bersalaman ke Lisa dan sesekali mencuri gugusan indah
parasnya. Uuuuu.
“Eh, Ren. Lu sudah lama
kenal sama Lisa? Btw, anaknya itu baik Ren. Dia sering membantuku mengerjakan
tugas kampus maupun organisasi. Baik bet deh, nggak kayak aku yang males
malesan. Padahal aku jauh jauh kuliah disini diberi amanah oleh ortu ku Ren agar kuliah yang benar, sungguh sungguh, tapi aku malah begini... HEE E E
HEEE...” Yah nangis dia keingat orang tua
“Lah, siapa suruh curhat,
siapa suruh adu nasip, air mata lu tuh keluar sebiji salak. SUDAH AH.”
Saat itu aku semakin memikirkan
si Lisa, selain ia humoris ternyata juga baik. Selepas pulang, di kos pikiranku
tidak jauh dari si Lisa. Makan ingat dia, minum ingat dia, baca buku ingat dia,
waktu cebok ingat dia, saat maling ingat dia. Ahhh.
Di malam itu disaat bulan
purnama, aku termenung memikirkan Lisa tiada henti. “apa aku buatkan sajak saja
ya, esok aku berikan padanya,” kataku dalam hati. Apalagi ini saat dimana aku
harus mengerjakan tugas akhir semester yang biasanya tugasnya ngajak bunuh diri.
Mumpung setelah ini aku libur semester dan dia juga. Kita pisah pulang ke
kampung halaman masing masing. Tidak ada salahnya aku memberinya selembar sajak
sajak cinta untuknya.
Malam itu aku menulis
dengan tangan gemetar, badan gemetar, meja tempat aku menulis juga ikutan
getar, ternyata memang ada gempa ringan. Astaga. Bumi saja ikutan getar. Sajak itu
betul betul aku tulis dengan hati. Waktu aku menulis saja, sengaja aku tidak
bernafas agar penuh penghayatan. 5 jam berlalu tanpa nafas aku menulis sajak itu. Sekuntum
sajak akhirnya jadi dan perlahan aku lipat lipat serta aku letakan di dalam tas
agar tidak lupa ketika esok aku berikan kepadanya.
Esok hari tiba. Waktunya
pergi ke kampus tetap saja teringat ia, padahal rasa dan semuanya sudah aku
tuangkan dalam sekuntum sajak itu. Sampai sampai jalanan ke kampus saja lupa,
tahu tahu sudah didepan pintu gelanggang kota Romawi. Ah sudahlah. Aku berjalan
ke kampus dan sama sekali tidak nampak ada Lisa. Ya memang, lawong beda
fakultas.
Sore hari waktu ada
kegiatan di halaman kampus utama. Aku tunggu disitu sambil numpang wifi gratis.
Sampai senja menyuruh pulang, dia tetap tidak nampak. Aku menghubungi si berhala.
“Eh, Lisa kemana kok
nggak nampak di kampus?”
“Lah, hari ini dia nggak
ada matkul. Besok ada”
Aku tersenyum dengan
menyimpan misuh di dalam hati.
Yaudah, aku pulang kembali
ke kos, melewati pinggiran kampus. Masuk kamar rasanya lemas karena tugas yang
tidak kunjung terjamah, bingung mau mulai yang mana.
“RRRrrrrr.” Getar hp. Pikirku mungkin si berhala tadi telpon ngajak ngopi
“RRRrrrrr.”
“RRRrrrrr.” Bolak balik
hp getar, sedangkan aku mau merebahkan badan.
Terdengar suara chat
masuk di HP. Aku lihat ada pesan “Ren, ini aku Lisa”
HAH. Mimpi apa aku tadi
malam? Perasaan mimpi mimi peri, malah di chat peri sungguhan. Aku langsung
jawab chat tanpa ada jeda sekalipun.
“Iya Lisss. Ini aku save ya nomermu.” Karena tergesa gesa jadi nggak nyadar kalau pesannya masuk ke grub, untung
cekatan langsung aku tarik pesanya.
“Iya Lis, ada apa?”
“Tadi cari aku ya? Aku di
bilangi temanmu.”
“iya Lis tadi, tapi kamu
nggak ada.”
“Besok aja kita ketemuan
di kampus. EH, di warkop saja yang kemarin.”
“Oke Lis, besok jam 9
pagi aku ke situ.”
“Iya Ren.”
Aku merebahkan badan
sejenak. Mau saja mata terpejam tapi teringat tugas yang harus dikerjakan,
yaudah alamat begadang lagi. Waktu terus berjalan terasa jam menunjukkan pukul
2 pagi yang mana aku belum tidur sama sekali. Bukan karena mengerjakan tugas
semester tapi ngopi dengan anak kamar sebelah. Langsung aku menuju kamar dan tidur
di spons yang mulai menipis dan pukul 3 terbangun karena ada suara kucing lagi
berkembang biak. Karena terbangun pukul 3 pagi yang mana itu adalah waktunya
sholat tahajud, aku pergi ke kamar mandi untuk kencing dan tak lupa berwudhu, selepas
itu aku kembali ke kamar dan melakukan rutinitas tidur.
Adzan subuh berkumandang,
karena aku rutin sholat subuh, tanpa pakai alarm hp pun sudah terbangun
sendiri. Aku terbangun pukul 8 pagi. Aku mengambil wudhu dan menunaikan sholat Subha (Subuh dan Dhuha). Astagfirullah, jangan di tiru ya. Dan juga tidak lupa sholat sunnah taubat sekalian biar dosa dosa diampuni, selepas itu
ya tidur lagi. Aku
terbangun pukul 10 pagi. Terlihat hp yang sudah di penuhi pesan, pesan dari
Lisa yang ternyata aku punya janjian ketemuan pukul 9 pagi. MAMPUS GUA.
Aku buru buru chat Lisa
kembali ternyata dia off. Aku langsung pergi ke warkop tempat janjian juga
sudah tidak ada disana. Buruan aku chat si berhala.
“P”
“apa Ren,”
“Lu tau Lisa? Tadi aku
janjian tapi aku lupa”
“HAHAHA GBLK, "
"kjhenksjnclsm"
"iya tadi
ketemuan sama gua di kampus. Oh iya, sebetulnya ada yang mau di omongin Ren ke
lu”
“HAH, apaan?
“Lu dimana biar gua
kesitu”
“Aku di warkop biasa yang
kemaren”
“Yaudah, gua otw”
Aku nunggu sampe Jan
Ethes jadi presiden dia baru dateng
“Maaf cuy lama”
“Cok,” kataku dalam hati
“Duduk sini bentar, eh
bentar aku pesan kopi dulu,”
“Oh iya gimana, ada apa?”
“Ini Lisa punya sesuatu
buat lu, tadi sebenarnya dia mau ngomong langsung ke lu, tapi lu malah nggak
dateng, yaudah di titipkan sama gua”
“HAH, apaan emang?”
Ia mengeluarkan kertas
dari dalam tas nya. Ia memberikannya kepadaku. “WAHHH” kegirangan banget
rasanya. Setelah aku pegang dan aku baca ternyata itu surat undangan lamaran
Lisa dengan calon nya. Rasanya sekujur badan lemas, nggak bisa berkata kata
lagi, mana sajak yang aku buat itu penuh dengan penghayatan. Mau aku kasih ke
dia tapi sudah keburu yang datang surat undanganya. Aku pulang dengan menyimpan
kesedihan yang mendalam rasanya. Langsung aku cabut tanpa kabar kabar ke
temanku.
“WOY, kopi lu belum lu
bayar ya bgsd”
Tanpa aku jawab aku
langsung pergi. Di pertengahan jalan aku melewati tong sampah, disitu aku
berhenti sejenak mengeluarkan selembar sajak ku. Aku pegang, aku remas remas,
aku sobek sobek, aku buang ke tong sampah itu. Aku pulang ke kos dengan rasa
yang kosong. Aku buka hp dan buru buru chat Lisa.
“Makasih ya undangannya
Lis. Aku menyampaikan terima kasih ke kamu, karna berkatmu, aku merasakan hari
hari yang indah.” Ucapku, yah walau juga
tidak berakhir indah
“Iya Ren sama sama, kalau
kamu mau ngopi lagi chat aja” jawab nya setelah 5 menit 20 detik
“Emot jempol” kaya dosen lagi jawab mahasiswa
nya di chat
Aku tahu dia sudah ada pendamping, mana aku dapat undangan lamaranya. Tapi setidaknya dia adalah seorang wanita baik. Doa terbaik untuknya. Mulai detik itu aku buka laptop dan kembali ke rutinitas mengerjakan tugas semester yang sudah menumpuk. Orang rumah sudah menghubungi kapan pulang kampung, si berhala bolak balik ngechat suruh bayar kopi tadi, kucing di belakang kos berisik karena berkembang biak. Yah... pada intinya kembali ke rutinitas..... Rutinitas....
Sekian dari saya, semoga cerpen sederhana ini bisa menghibur pembaca sekalian. Jika ada kesamaan nama tokoh itu
murni kebetulan belaka dan jika ada kesamaan alur cerita. Percayalah, tidak ada
orang segoblok itu. Yah, ini hanyalah komedi biasa
Pict by: id.pinterest.com
0 Komentar