Berdamai Dengan Diri Sendiri

Ilustrasi

Berdamai Dengan Diri Sendiri


Berdamai dengan diri sendiri adalah awal seseorang bisa menerima dirinya yang apa adanya dan menerima segala kekurangan yang ia miliki. Terkadang banyak orang yang menutupi kekurangannya karena merasa kurang pede. Kita punya rambut keriting tapi karena kita kurang pede akhirnya kita lurusin, punya badan gemuk lalu melihat orang yang langsing langsung cari penurun berat badan (ada tuh iklan di IG katanya penurun berat badan 2 minggu tanpa olahraga), yang kulit sawo matang ingin putih, yang kulit putih malah berjemur di pinggiran pantai. Yah, namanya juga kehidupan, pasti punya bermacam macam keinginan, tapi apakah semua harus kita turuti?  

Ketika aku awal awal menjadi mahasiswa, apalagi kan zaman kopit 19 jadi lama tidak sekolah, udah deh gua enggak potong rambut sekalian. Namanya mahasiswa tidak afdal jika belum pernah gondrong, kata orang sih "semua orang pernah muda tapi tidak semua pernah gondrong." Rambut aku tidak sebagus mereka yang punya rambut lurus bak iklan sampo. Rambut aku tipe yang bergelombang. Suatu ketika aku coba berdamai dengan diri aku sendiri melalui gondrong, kok bisa? Aku sengaja tidak potong rambut hampir sekitar 6 bulan, sebetulnya waktu yang singkat bagi para gondrongers, tapi bagi aku itu udah sebuah perjuangan dengan mempunyai rambut kayak gembel dan bertahan sampai 6 bulan lamanya.

Aku coba menerima dan itu aku jadikan untuk belajar tentang diri sendiri dan karakter manusia. Aku sadari bahwa aku ya seperti ini dan inilah aku. Aku cinta terhadap diriku yang apa adanya. Aku belajar banyak ketika manusia memunculkan sifat yang berbeda beda melalui lisan mereka untuk menilai sesuatu di depanya. Ada yang bilang Gondrong seperti orang urakan, gembel, tidak rapi dan lain sebagainya, tapi ada loh yang menilai lain seperti itu sebagai ajang mengekspresikan diri. Nah, aku berada di barisan orang yang memanjangkan rambut sebagai pengekspersian diri agar lebih cinta terhadap diri yang apa adanya.

"Sekarang bukan waktunya kita saling menyaingi, akan tetapi saling berkolaborasi sesuai dengan bakat dan kreatifitas agar kita dapat melangkah bersama," begitu kira-kira kata seorang dosen UIN Bandung waktu webinar dulu. Terkadang kita terlena dengan perkataan orang lain yang malah membuat kita jauh dari diri kita yang sebenarnya. Tanpa disadari, kita mengikuti perkataan orang lain tanpa mendengarkan apa kata hati sehingga sampai lupa akan tujuan kita sebenarnya.

Setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda. Jika kita paham dan betul-betul memegang kalimat tersebut pasti kita jauh dari kata iri dengan kemampuan orang lain dan percaya diri dengan segala kelebihan yang kita punya. Dengan pemahaman yang seperti itu mampu menjadikan diri lebih tenang tanpa terbebani harus mengikuti jalan seseorang, mengikuti perkataan orang, meladeni semua hal yang ditunjukan kepada kita yang belum tentu sesuai dengan karakter dalam diri.

Akhir kata, kita pasti tidak bisa mengharap semua orang suka pada kita, pasti ada yang tidak suka. Sedikit demi sedikit aku belajar untuk menangkap ilmu dari manapun itu termasuk omongan, perilaku pada setiap orang entah itu guru bahkan sampai anak kecil sekalipun atau siapapun yang berada di alam raya ini. Terus belajar dan belajar dari manapun itu agar semakin luas cara pandang kita terhadap suatu hal. 

Sekian dari saya, semoga kita lebih mencintai diri kita

Wassalamualaikum wr. wb.

Kehidupan adalah sekolah tanpa bangku - Gus Miek

Posting Komentar

0 Komentar