Kisah Awal di Pesantren



Banyak anak yang menginginkan ke pondok pesantren entah keinginannya sendiri atau keinginan orang tua. Tak jarang juga sebagian orang tua merasa tidak tega meninggalkan sang buah hati ke pesantren. Namun, yang perlu diketahui adalah pondok itu tempat yang aman bagi generasi sekarang ini dan juga bisa di katakan tempat yang mengasyikan. Seperti kisahku dulu yang mulai masuk ke ponpes awal kelas 1 MAN. Aku sebetulnya dari SMP, lalu memutuskan masuk ke MAN karena keinginan hati ingin belajar agama. Anjay nggak tuh. Selang tidak beberapa lama aku memutuskan untuk menjadi santri di salah satu pondok yang berada tak jauh dari sekolahku tersebut.

Awal Di Pesantren

Yang namanya pisah dari ortu apalagi buat pertama kali itu adalah hal menyakitkan, seolah hati ini nggk tega meninggalkan mereka. Perasaan sedih menyelimuti hati di hari-hari pertama mondok, tapi kalau sudah bertemu teman teman baru pasti sedikit demi sedikit akan hilang rasa sedihnya. Awal-awal tuh kita belajar untuk mandiri, semua hal kita lakukan sendiri, jika kita kesulitan pasti di bantu kok sama teman kita. Kita di kamar tuh ibarat keluarga yang mana saling bahu membahu ketika ada kesulitan dan itu menjadi sebuah ciri khas tersendiri dalam pesantren.

Nah, ada beberapa hal yang menurut aku itu khas banget buat anak pesantren, yakni:

1. Mayoran

Mayoran adalah tradisi khas pondok dimana para santri makan bersama dalam satu nampan. Ketika mayoran tuh entah kenapa semua makanan rasanya jadi enak aja. Ada satu hal yang aku heran di pondok, namanya sayur terong tuh kok selalu ada ya kayaknya. Aku coba tanya ke teman yang dari pondok lain katanya juga ada tuh sayur terong, entah deh kalau di tempat lain.

Ini pengalaman sih ya, dulu pernah di kasih makanan sama ketua takmir masjid dan makanan nya itu cuma satu berkat aja, lalu ada yang ambil nampan agar bisa dimakan rame-rame dan di tuang deh makanan nya. Sontak teman-teman bilang bersama "Bismillahirohmanirohimmm" lalu makan. Nah, yang aneh tuh makanan nya seperti nggak habis-habis, padahal satu nampan tuh di makan bersama 4 orang dan alhasil karena dimakan bareng nggak habis habis akhirnya ya.... habis juga lah, masa iya di buang. Kata senior, itu lah barokah 

2. Satu Untuk Semua

Yes of course, sudah tidak di ragukan lagi. Di kamar tuh banyak orang jadi kita harus hafal dengan barang barang milik kita kalau nggak mau ketukar dengan milik teman. Tak jarang para santri menuliskan nama di bagian dalam kopyahnya atau di dalam baju sebagai bentuk identitas pemilik barang. Tapi berbeda dengan makanan, biasanya kalau ada yang punya makanan ya pasti di buat rame-rame.

3. Ghosob

Biasanya yang sering sekali di ghosob itu adalah sandal. Nah, apa itu ghosob? ghosob itu adalah meminjam barang teman tanpa izin. Berbeda dengan mencuri ya. Kalau mencuri itu sudah tidak izin juga tidak di kembalikan tapi kalau ghosob itu minjam tapi tidak bilang ke yang punya barang dan masih kembali barangnya. Tapi ada juga sih yang nggak balik wkwk. 

Nah, gimana tuh hukum ghosob? ya kembali lagi sih ya, gua nggak terlalu fokus ke situ, yang pasti ketika gua punya barang apapun yaudah harus siap aja untuk dibagi bersama. Jadi waktu ada temen yang minjam atau tiba-tiba barangnya nggak ada ya santai aja toh nanti kembali hahaha.

4. Gatal

"No Picture"

"Santri belum sah kalau belum gudiken." pasti pernah ya mendengar kata-kata seperti ini. Bahasa kerenya gudik adalah Scabies. Kalau ini menurut aku tergantung bagaimana temen-temen tuh pandai menjaga kebersihan. Aku pun juga pernah dulu ketika awal masuk sekitar 3 bulan pertama, rasanya gatal gatal enak haha, tapi yah pasrah aja di nikmati, anggap aja ujian menjadi santri. Nah, bagi yang terkena gatal ada beberapa tips yang aku coba dan terapkan.

1. Sering mandi dan usahakan pakaian sekali pakai.

2. Jangan pakai barang secara bergantian.

3. Pakai sabun Asepso atau sabun Ijo, tapi kalau nggak mau perih dan sakit, pakai aja JF Sulfur tapi ya harganya lumayan, sekitar 10rb an

4. jaga pola makan, kalau disini namanya "tarak", tarak itu nggak makan makanan yang dari ayam, telur atau sejenisnya.

udah itu aja sih kalau aku. Tapi pengalaman teman-teman aku ada yang sembuh dengan air garam, air godokan suruh dan pakai sabun ijo/asepso, tapi kembali lagi sih semua orang beda-beda cara penyembuhanya.

Sebenarnya masih banyak kisah awal-awal di pesantren tapi mungkin cukup segini aja yang dapat aku bagikan, sekali lagi ini adalah pengalaman yang aku alami. Semoga dapat menghibur bagi para pembaca. Okeeee


Semoga Bermanfaat 


Pict by: nuonline.com 

    

Posting Komentar

0 Komentar